Laporkan Masalah

Peran Modal Sosial Ikatan Warga Saniangbaka dalam Mewujudkan Kesejahteraan Perantau di Daerah Istimewa Yogyakarta: Studi tentang Organisasi Sosial sebagai Aktor Distribusi Kesejahteraan

YORRI HARLYANDRA, Dra. Agnes Sunartiningsih, MS.

2018 | Skripsi | S1 ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)

Merantau adalah sebuah harapan pencapaian akan kehidupan yang lebih baik dan telah membudaya bagi Suku Minang. Salah satu masyarakat Minang yang gemar merantau adalah masyarakat Saniangbaka. Saniangbaka adalah sebuah nagari di Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Hampir seluruh masyarakatnya pergi merantau dan tersebar diberbagai daerah di Indonesia, salah satunya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Nilai-nilai kekerabatan yang kuat antarsesamanya, mendorong masyarakatnya untuk membentuk suatu organisasi sosial kemasyarakatan bernama Ikatan Warga Saniangbaka (IWS). Sebagai sebuah organisasi sosial, IWS memiliki modal sosial yang berguna dalam mewujudkan tujuannya. Pluralisme kesejahteraan di Indonesia memberikan kesempatan bagi civil society untuk mengambil peranan dalam distribusi kesejahteraan bagi masyarakat, di samping negara dan sektor swasta. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada peranan IWS dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat Saniangbaka sebagai tujuan organisasi, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta . Peneliti mengartikan kesejahteraan dalam tiga aspek yaitu ekonomi, pendidikan, dan kesehatan dengan kerangka modal sosial yang dimiliki oleh IWS. Dalam melihat peranan IWS, peneliti menggunakan karakteristik modal sosial yang terdapat dalam suatu organisasi sosial yakni kepercayaan, norma, dan jaringan melalui solidaritas yang terjalin pada IWS. Metode penelitian yang dipakai oleh peneliti adalah metode kualitatif deskriptif. Penelitian ini berlokasi di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai fokus utama. Di samping itu, penelitian ini juga dilakukan di Kota Jakarta Timur dan Kabupaten Bekasi guna mendapatkan informasi yang lebih lengkap. Dalam menentukan informan, peneliti menggunakan metode teknik pengambilan informan bertujuan. Peneliti membagi informan ke dalam tiga kategori, yaitu pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IWS, pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) IWS Yogyakarta, dan masyarakat Saniangbaka di Yogyakarta. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa DPC IWS Yogyakarta belum berperan secara maksimal dalam menyejahterakan masyarakatnya di perantauan. Dalam bidang ekonomi, tidak ditemukan program kerja yang dapat menunjang kehidupan ekonomi masyarakatnya. Dalam bidang pendidikan, peranan DPC IWS Yogyakarta masih sebatas wacana. Di samping itu DPC IWS Yogyakarta juga melimpahkan urusan bidang pendidikan sepenuhnya kepada DPP IWS. Dalam bidang kesehatan, DPC IWS Yogyakarta telah berperan melalui program tali asih. Karakteristik modal sosial pada IWS hadir dalam berbagai kegiatan yang ada, baik diinisiasi oleh IWS sebagai sebuah organisasi sosial maupun inisiatif dari masyarakat Saniangbaka di perantauan.

Merantau is a hope for the achievement of a better life that has been entrenched for the MinangTribe . One of the Minang people who like to wander is Saniangbaka society. Saniangbaka is a nagari in Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, West Sumatra. Almost all the people go to wander and spread in various regions in Indonesia, one of them in Yogyakarta Special Region. Strong kinship values between them, encouraging the community to form a social organization called Ikatan Warga Saniangbaka (IWS)/Association of Saniangbaka Society. As a social organization, IWS has a social capital that is useful in realizing its goals. Welfare pluralism in Indonesia provides an opportunity for civil society to take a role in the distribution of welfare for the community, in addition to the state and the private sector. Therefore, this research focuses on the role of IWS in realizing the prosperity of the Saniangbaka community as an organizational goal, especially in the Special Region of Yogyakarta. Researcher interpret prosperity in three aspects of economic, education, and health with the framework of social capital owned by IWS. In looking at the role of IWS, researcher use the characteristics of social capital contained in a social organization that are trust, norms, and networks through solidarity intertwined on IWS. Research method used by researcher is descriptive qualitative method. This research is located in Special Region of Yogyakarta as the main focus. In addition, this research is also conducted in East Jakarta and Bekasi to obtain more complete information. In determining informant, researcher use technique method of taking informant based on aim. The researcher divided the informants into three categories, namely the IWS Central Executive Board (DPP), the Branch Executive Board (DPC) IWS Yogyakarta, and the Saniangbaka community in Yogyakarta. In this research found that DPC IWS Yogyakarta has not played maximally in welfare society in overseas. In the economic field, nothing program can be found that can support the economic life of its people. In the field of education, the role of DPC IWS Yogyakarta is still limited to discourse. In addition, IWS Yogyakarta DPC also delegated the field of education entirely to the DPP IWS. In the field of health, DPC IWS Yogyakarta has played through the donation program. The characteristic of social capital at IWS are present in various existing activities, both initiated by IWS as a social organization and initiative of the Saniangbaka community in the overseas.

Kata Kunci : Merantau, Minang, Modal sosial, Organisasi sosial, Kesejahteraan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.