Laporkan Masalah

INTERNALISASI PENGGUNAAN OBAT RASIONAL (POR) DI DINAS KESEHATAN KABUPATEN GUNUNGKIDUL DAN SLEMAN, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

SUNARTONO, rof.Dr.dra. Sri Suryawati, Apt.; Prof.dr. Hari Kusnanto, SU,Dr.PH.; Dra.RA. Yayi Suryo Prabandari

2018 | Disertasi | S3 Ilmu Kedokteran

Latar belakang: Dampak penggunaan obat yang tidak rasional sangat luas dan merugikan masyarakat dari aspek klinis maupun ekonomi. Oleh karena itu perlu langkah nyata pemerintah untuk melindungi masyarakat. Banyak metode intervensi yang telah terbukti efektif dapat memperbaiki penggunaan obat di fasilitas pelayanan kesehatan namun implementasinya tidak bisa bertahan lama Kabupaten Gunungkidul dan Sleman berhasil melakukan implementasi penggunaan obat yang rasional (POR) di puskesmas dan dampaknya dapat bertahan selama 20 tahun lebih. Kasus ini sangat jarang terjadi sehingga penting untuk diteliti dengan tujuan melakukan eksplorasi faktor-faktor yang berpengaruh dalam implementasi program POR sehingga dapat bertahan dalam waktu yang lama. Methodologi: Jenis penelitian ini adalah studi kasus tunggal, dengan rancangan non eksperimental. Data kuantitatif dan kualitatif secara komplementer dikumpulkan untuk memperoleh informasi tentang indikator dan proses implementasi POR. Data kuantitatif merujuk indikator POR dari WHO 1993 yang terdiri atas: polifarmasi, persentase pasien yang diberi antibiotika, dan persentase pasien yang diberi injeksi. Data kualitatif dianalisis secara deskriptif, disusun kronologi kejadian masing-masing kabupaten dalam lintas kejadian dan waktu. Hasil dan Pembahasan: Program POR berhasil diimplementasikan di kedua kabupaten dan bertahan lama. Profil penggunaan antibiotika Kabupaten Gunungkidul tahun-2014 adalah: 52,1% menjadi 24,1%, selain itu adalah: poli-farmasi dari 4,2 menjadi 2,89, dan penggunaan injeksi dari 68,05% menjadi 0%. Profil penggunaan antibiotika di Kabupaten Sleman tahun 1998-2014 adalah 44,31% menjadi 20%, sedangkan polifarmasi bertahan sekitar angka 3, dan penggunaan injeksi dari 4,9% menjadi 0,18%. Kunci sukses Implementasi POR di kedua kabupaten adalah internalisasi yang dilakukan secara terus menerus dengan berbagai metode intervensi disertai pemantauan dan evaluasi rutin untuk membudayakan POR agar diterima sebagai norma puskesmas dalam melakukan pengobatan. Komitmen dari penentu kebijakan kesehatan kabupaten sangat penting dalam proses internalisasi program POR Kesimpulan: Program POR mempunyai nilai yang sangat strategis untuk meningkatkan kualitas pelayanan dalam pelayanan kesehatan. Peran penentu kebijakan kesehatan kabupaten merupakan kunci sukses internalisasi POR.

Background: Irrational use of medicine results in health hazard toward society, therefore the government need to make a policy to protect the community. There are many rational use of medicines (RUM) interventions have been proven effective in improving medicine use but the impacts were usually not sustainable for longer period of time. Gunungkidul and Sleman Districts of Indonesia have succeeded in implementing RUM programme for more than two decades. This is considered rare and therefore it is important to identify factors contribute to the success. Methods: This is a single case study with non-experimental exploratory design. Quantitative and qualitative data were collected integratively to obtain information concerning the indicators and the process of RUM implementation. Quantitative data were collected in reference to Word Health Organization (WHO) 1993 RUM indicators, including average number of medicines per prescription (polypharmacy), percentage of patients receiving antibiotics, and percentage of patients receiving injections. Qualitative data were analyzed descriptively and were arranged chronologically in respective to each district. Results: Implementation of RUM in the two Districts has successfully lasted up to 20 years. The annual medicine use indicators from 1994-2014 in Gunungkidul District show that polypharmacy decreased from 4.2 to 2.89, percentage patients receiving injections declined from 68.05% to 0%, and percentage of patients receiving antibiotics improved from 52.1% to 24.1%. The same indicators in Sleman District show that between 1998-2014 polypharmacy remained st able at 3, percentage of patients receiving injections declined from 4.9% to 0.18%, and percentage of patients receiving antibiotics improved from 44.31% to 20%. Culturization of RUM programme is the main key for sustainable impacts. Another important key is the high commitment of health policy makers to implement the principles of evidencebase treatment. Conclusions: The culturization of RUM programme followed by ontinuous monitoring and evaluation by District health managers were the key factors to maintain the impact of intervention.

Kata Kunci : Penggunaan obat yang rasional, pembudayaan, komitmen, penentu kebijakan, sustenabilitas, Rational use of medicines, culturization, commitment, policy maker, sustainability


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.