Nama-Nama Makanan dalam Sesaji Selamatan Daur Hidup Masyarakat Jawa Studi Kasus di Kabupaten Wonogiri: Telaah Etnolinguistik
IMAM BAEHAQIE, Prof. Dr. Marsono, S.U.; Dr. Suhandano, M.A.
2017 | Disertasi | S3 LinguistikTujuan penelitian ini adalah untuk (1) mendeskripsi sistem tata nama makanan dalam sesaji selamatan daur hidup masyarakat Jawa, (2) memaparkan makna nama-nama makanan dalam sesaji selamatan daur hidup, dan (3) untuk menjelaskan latar kultural (yang merupakan alasan) penamaan makanan dalam sesaji selamatan tersebut. Penghimpunan data dilakukan dengan metode cakap (wawancara) dan metode simak (observasi). Analisis data dilakukan dengan metode etnosains dan disesuaikan dengan masalah yang dibahas. Dalam hal ini, untuk menganalisis sistem tata nama makanan, peneliti berpedoman pada pendapat Berlin (1973: 218); untuk menganalisis makna nama-nama makanan, peneliti menerapkan teori segi tiga makna Lyons (1977: 96); untuk menganalisis latar kultural nama makanan peneliti berpijak pada pernyataan Turner (1982: 20). Adapun metode penyajian hasil analisis datanya adalah metode deskriptif formal dan deskriptif informal. Dari hasil analisis data penelitian diperoleh paling sedikit enam puluh dua nama makanan dalam sesaji selamatan daur hidup masyarakat Jawa. Secara garis besar, ke-62 nama tersebut dapat diklasifikasi ke dalam empat kategori generik, yaitu sega (nasi), tumpeng, jenang, dan jajanan (kudapan). Banyaknya variasi nama-nama makanan, semisal sega, tumpeng, dan jenang mencerminkan banyaknya keperluan pelaku sesaji terkait dengan tujuan pelaksanaan sesaji. Jika kenyataan tersebut dikaitkan dengan elemen etnolinguistik, yaitu hipotesis Sapir-Whorf, dapat dinyatakan bahwa adanya kepelbagaian, keanekaragaman, atau diversitas nama makanan dengan segala keserbaanekaan karakteristiknya tersebut mengisyaraktkan adanya diversitas aktivitas dan gagasan masyarakat pelaku sesaji yang cukup intensif dalam penyikapannya terhadap keberadaan nama sega dan jenang. Nama-nama makanan ini bermakna sebagai permohonan keselamatan pada saat menjalani fase hidup: kelahiran, pernikahan, dan kematian. Jadi, medan makna keselamatan itu meliputi keselamatan dalam kelahiran, keselamatan dalam pernikahan, dan keselamatan dalam kematian. Adapun alasan penamaannya adalah adanya fenomena budaya di balik penamaan makanan dalam sesaji tersebut, yaitu bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi, atau kesenian. Pada akhirnya, berdasarkan keseluruhan uraian dalam disertasi ini dapat disimpulkan bahwa relasi antara bahasa dan budaya penuturnya bersifat timbal balik. Artinya, bahasa dapat menentukan keberadaan budaya penuturnya dan keberadaan budaya penutur suatu bahasa dapat menentukan keberadaan sebuah bahasa. Bahasa dan budaya ibarat dua sisi mata uang.
Purposes of this study are (1) to describe nomenclature in the food offerings of Java community for safety lifecycle, (2) to explain the meanings of the food offerings for lifecycle salvation, and (3) to explain the background of nomenclature in those food offerings. Method of collecting the data used interview and observation method. Method of analysis the data used etnosains methods and adapted to the issues discussed. In this case, in order to analyze foods nomenclature, the researcher referred to Berlin (1973: 218); to analyze the meaning of foods, the researcher applied triangular theory of meaning by Lyons (1977: 96); to analyze the cultural background of foods names, the researcher refered to Turner's statement (1982: 20). Meanwhile, method in presenting the data used formal and informal descriptive method. Based on the analysis of the research data obtained, there are at least sixty-two names in the food offerings of Java community for lifecycle salvation. The outline was all of the 62 names could be classified into four types of form, namely sega 'rice', tumpeng 'tumpeng', jenang 'porridge', and jajanan 'snack/cookies'. Many variations of the foods names, such as sega and jenang reflect how many actors purposes related to the purpose of holding the offerings. If this fact is associated with the element of etnolinguistic which is Sapir-Whorf hypothesis, it could be stated that the existence of diversity of food names with all of the various characteristics means the diversity of activities and ideas of community (actors who hold offerings) are quite intensive in the relation to the existence of the name sega and jenang. Those names of these foods mean as a salvation wishes when undergoing a lifecycle: birth, marriage and death. Thus, the salvation meaning in this matter covers the birth salvation, marital salvation, and salvation in death. The reason for the naming is a cultural phenomenon behind the naming of the food in the offerings are the languages, knowledge systems, social organization, technology and equipment of life, livelihood system, religious system, and/or art. Based on the findings in this dissertation, it could be concluded that the correlation between language and culture of its speakers are reciprocal. That is, the language could determine the existence of native speakers culture and the native speakers culture could determine the existence of a language. The existence of the word slametan causes people have thought and action of doing salvation ceremony and the salvation ceremony caused the arisen of variety names of food offerings. Words and names are representatives of language, while thoughts and actions are the representatives of culture. Language and culture are like two sides of a coin, which could not be separated.
Kata Kunci : nama-nama makanan, sesaji, selamatan daur hidup, masyarakat Jawa, dan etnolinguistik