SISTEM PERENCANAAN RANTAI PASOK TERPADU UNTUK PENYUSUNAN STRATEGI PASOKAN KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) DI INDONESIA
NOVITA ERMA K, Prof.Dr.Ir.Mochammad Maksum,M.Sc;Dr.Ir.Adi Djoko Guritno,MSIE;Prof.Dr.Ir.Lilik Sutiarso,M.Eng
2017 | Disertasi | S3 Ilmu Teknik PertanianKedelai merupakan komoditas pangan strategis bagi masyarakat Indonesia. Permasalahan yang terjadi terhadap komoditas kedelai yaitu ketidakseimbangan antara supply dan demand dalam sistem rantai pasok. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun strategi rantai pasok terpadu menitikberatkan sinergi antar peran dalam tata niaga kedelai berdasarkan pengukuran kinerja rantai pasok. Metode penelitian mengacu pada penggunaan mix method yang menggabungkan data kuantitatif dan data kualitatif dalam penyelesaian permasalahan. Pengambilan data responden dilakukan dengan cara interview dan penyebaran kuesioner pada petani dan narasumber dari akademisi, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), dan pelaku rantai pasok di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Adapun pelaku sistem logistik rantai pasok kedelai terdiri dari petani, pengepul, pedagang, koperasi, industri tahu dan tempe serta konsumen, sedangkan data sekunder diperoleh di dinas dan instansi terkait serta jurnal dan buku teks yang berkaitan dengan kedelai di Indonesia. Berdasarkan pengukuran kinerja rantai pasok kedelai diketahui bahwa struktur biaya logistik pada rantai pasok kedelai yang paling dominan ada pada tier petani sebesar 73,14% yang merupakan biaya saat di lahan, terutama biaya perawatan, upah tenaga kerja dan pengadaan pupuk sehingga perlu dilakukan optimalisasi biaya logistik, terutama program intensifikasi pertanian. Berdasarkan saluran distribusi yang paling efisien dengan permintaan kedelai yaitu saluran dengan kode 4 yang terdiri tier petani, kemudian dijual kepada kelompok tani, selanjutnya kelompok tani menjual ke industri tahu dan tempe. Upaya optimalisasi sistem perencanaan rantai pasok terpadu di Indonesia terdiri dari indikator waktu, lokasi, biaya, hubungan integrasi dalam rantai pasok dan strategi pemenuhan pasokan kedelai. Penentuan rantai pasok terpadu yang efektif dapat dilakukan dengan cara memperkuat peran masing-masing tier dalam tata niaga kedelai, penerbitan regulasi harga yang menguntungkan semua pihak petani sebagai produsen, industri dan masyarakat lainnya sebagai konsumen. penetapan tarif bea masuk impor kedelai dan perbaikan regulasi tataniaga kedelai yang berpihak pada petani.
Soybean is a strategic food commodity in Indonesia to fulfill the traditional fermented food products. The problem of soybean commodity is imbalance between supply and demand in supply chain system. This study aims to develop an integrated supply chain strategy focusing on the synergy between roles in the soybean system based on supply chain performance measurement. Data collection of respondents was done by interviewing and distributing questionnaires to farmers and various informants from academics, Ministry of Agriculture, Ministry of Trade, Agricultural Technology Assessment Institute (BPTP), and supply chain in Grobogan District, Central Java. The soybean supply chain logistics system consists of farmers, collectors, traders, cooperatives, tofu and tempe industries as well as consumers, while secondary data are obtained from related agencies and agencies as well as journals and textbooks related to soybean in Indonesia. Based on the performance supply chain structure of logistics costs in the supply chain the most dominant soybean exist on farmers tier of 73.14% which is the current cost of land, especially the cost of maintenance, labor and procurement of fertilizer so that needs to be done to optimize logistics costs , Especially agricultural intensification programs. Based on the most efficient distribution channel with soybean demand that is channel with code 4 consisting tier of farmer, then sold to farmer group, then farmer group sell to industry of tofu and tempe. Efforts to optimize integrated supply chain planning system in Indonesia consist of time, location, cost indicator, integration relationship in supply chain and soy supply fulfillment strategy. The determination of effective integrated supply chain can be by strengthening the role of each tier in the soybean trading system, issuing price regulation that benefits all the farmers as producers, industries and other communities as consumers. Stipulation of import duty tariff on soybean and improving regulation of soybean trade in favor of farmers.
Kata Kunci : Kedelai, Rantai Pasok, Biaya Logistik, Penjualan Langsung