Laporkan Masalah

ANALISIS CARA PENYIMPANAN TRADISIONAL GANTUNG DAN CARA SEBAR PADA BAWANG MERAH (STUDI DI KELOMPOK TANI NGUDI MAKMUR)

RR. SAVITRI MARETTA, Ir. Ag. Suryandono, M.App.Sc; Ir. Pujo Saroyo, M.Eng.Sc

2017 | Skripsi | S1 TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

Kebutuhan bawang merah meningkat seiring terjadi pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia. Untuk mencukupi kebutuhan tersebut, beberapa wilayah membantu memproduksi bawang merah. Seperti halnya daerah Kabupaten Bantul yang telah menjadi produsen bawang merah tertinggi di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Tingginya permintaan bawang merah pada Kelompok Ngudi Makmur mengharuskan kelompok untuk dapat meningkatkan produksi. Namun produksi bawang merah kelompok tani Ngudi Makmur seringkali mengalami penurunan susut bobot saat penyimpanan. Penurunan susut bobot bawang merah akibat kebusukan dan jatuh memberikan dampak pada kuantitas bawang merah yang diproduksi petani. Penelitian ini penting dilakukan agar diperoleh cara penyimpanan bawang merah yang lebih baik sehingga bawang merah tidak mengalami penyusutan bobot berlebih saat penyimpanan di gudang. Penelitian dilakukan dengan melakukan analisis faktor lingkungan dengan indikator suhu dan RH serta kadar air pada masing-masing cara penyimpanan untuk menganalisis kesesuaian kondisi gudang dengan acuan pustaka. Kemudian dilakukan analisis penyusutan bobot dilakukan untuk masing-masing cara penyimpanan benih bawang merah untuk mengetahui cara penyimpanan dengan persentase jumlah susut bobot yang lebih sedikit. Analisis biaya dan nilai tambah dilakukan untuk mengetahui nilai tambah dan keuntungan untuk setiap cara penyimpanan benih bawang merah. Berdasarkan hasil penelitian cara penyimpanan benih bawang merah sebar lebih baik dari segi susut bobot dibandingkan cara penyimpanan tradisional dengan nilai susut bobot sebesar 6,65% dan cara penyimpanan tradisional gantung sebesar 4,775%. Cara penyimpanan sebar lebih baik dari segi analisis biaya dengan nilai tambah yang lebih tinggi sebesar Rp 274.626,00 per 1400 kg panen MT 2 dibandingkan dengan cara gantung.

The needs of shallots are increasing along with the Indonesian population growth. Several areas in Indonesia are producing shallots in order to fulfill those needs. In Bantul region, for example, is the highest shallots producer in Special Region of Yogyakarta. The high demand of shallots make Ngudi Makmur Group to increase their production. However, shallots production of Ngudi Makmur farmer group usually get excessive shringkage when storage time. It caused by decaying and fallen of shallots, hence the decreasing quantity of the shallots production. This importance of this research is to determine the better shelving methods for shallots, so it does not get excesive shrinkage while in the warehouse. This research analize the environmental factors using temperature, RH, and water content from each storage methods. After that, it used to analize between the real condition at the warehouse and the reference. Then, weight shrinkage analysis using different methods of storage to find out which one has the smallest shrinkage between those. Cost and added value analysis are also done to find out the value added and benefits from each storage methods. According to the result of this research, the spread storage method is better from others because it has the least shrinkage than the traditional storage method. It has weight shrinkage 4.775% and the traditional method has 6.65%. The spread method also has better cost analysis, with value added of Rp 274.626,00 per 1400 kgs MT 2, than the traditional hanging method.

Kata Kunci : Benih, Cara, Faktor Lingkungan

  1. S1-2017-333234-abstract.pdf  
  2. S1-2017-333234-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-333234-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2017-333234-title.pdf