Pengaruh manipulasi keluarga terhadap kekambuhan penderita skizofrenia dan gangguan afektif di Yogyakarta
SOEKARTO, Adi, Promotor Prof.Dr. Makmuri Muchlas, PhD.,SpKJ
2002 | Disertasi | S3 Ilmu KedokteranTeori holistik mengatakan bahwa perkembangan jiwa sehat ataupun gangguan jiwa diyeligaruiii oleh fsrktor dxi dalalii dati faktor lingkungan. Lingkungan keluarga yang berupa hubungan antirril orang lua dan mak, keadaan sosial ekonomi, ataupun sikap hidup yang dianut orang tua merupakan ha1 yang penting dalam perkembangan jiwa anak. Hal ini juga akan mempengaruhi perjalanan gangguan jiwa pada seseorrnlg. Apakah sikap hidup Jawa yang dihayati oleh sebagian besar orang Jawa di Yogy akarta mempunyai pengaruh terhadap pelaksanaan manipulasi keluarga guna memperbaiki kekambuhan penderita gangguan j iwa? Penelitian ini ialah untuk menilai pengaruh manipulasi keluarga terhadap penurunan angka kekambuhan penderita gangguan j iwa berat (skizofrenia dan v gangguan afekbf) di kalangan orang Jawa di Yogyakarta. Subjek penelitian diambil dari orang tua beserta anaknya'png sedang dirawat inap di Rumah Sakit Jiwa Pakem dan RSIJP Dr. Sardjito. Kepada orang tua penderita diberikan beberapa instrumen; yaitu instrumen sikap hidup Jawa. keintiman orang tua dengan anak, expressed emotion (ekspresi emosi) orang tua anak, dan instrumen manipulasi keluarga. Tahap pertama pada penelitian mengambil 100 orang penderita yang sedang menjalani rawat inap di RSJ Pakem dan RSIJP Dr.Sardjito meliputi penderita skizofrenia dan penderita gangguan afektif dengan metode Non-equivalence Tornpurison Grozq~ I>esign dengan preiest-posttest dan masing-masing diberi kan manipulasi keluarga. Dalam ha1 ini sekaligus untuk menguji validitas manipulasi keluarga, instruinen ekspresi emosi, dan untuk menilai penghayatan sikap hidup Ja\\a di kalangan orang tua penderita. Pada penelitian ke dua dengan metode Rundonz~sed C'ontrof Trzul (RCT) dan pt-eetest-posttest terhadap sejuinlah penderita skizofrenia menjadi dua kelompok untuk menilai pengaruh manipulasi keluarga terhadap penyembuhan dan penurunan angka kekambuhan pasien skizofrenia. Pada penelitian pertama, kalangan orang tua penderita yang menghayati sikap hidup Jawa (terutama tentang subur dan nurinzo ing pundunz) mencapai 90,8%, dan sikap hidup Jawa ini berkorelasi negatif yang sangat bermakna dengan ekspresi emosi orang tua anak (r = - 0,4619; p = O,OOO), dan berkorelasi positif yang tidak bermakna dengan keintiman orang tua anak (r = 0,1961; p = 0,083). Pengaruh manipulasi keluarga terhadap kekambuhan pada kelompok penderita skizofienia dari jarak ratarata 10.8 bulan menjadi 16,5 bulan, dan gangguan afektif dari 11,s bulan menjadi 30,2 bulan. Perbedaan jarak kekambuhan antara penderita skizofrenia dan gangguan afektif sebelum h4K tidak bermakna perbedaansya (p = 0,790), tetapi perbedaan tersebut sesudah MK sangat bermakna (p = 0,000). Dari penelitian yang kedua angka kekambuhan dalan 3 bulan (7,4%) dan 6 bulan (24,3%) pada kelompok perlakuan lebih rendah dari kelompok kontrol (26,7% dan 46,7%). Dengan melihat angka Reduksi Risiko Relatif pada 3 bulan sebesar 72%. Demikian juga, skor Brief ~'s~~clziuetricliuetSrncga k (BPRS) pada 3 bulan untuk kelompok perlakuan 36,7 dan 2 bulan kemudan turun menjadi 32,1, penurunan skor BPRS ini cukup bermakna. Pada keloinpok kontrol dari 37,l turun sesudah 3 bulan menjadi 34.1 tetapi penurunan ini tidak bermakna. Jadi gangguan afektif lebih responsif terhadap inanipulasi keluarga bila dibandingkan dengan pada penderita skizofrenia. Di antara keloinpok penderita skizofrenia, inanipulasi keluarga cukup berpengaruh terhadap kekambuhan meskipun lidak bemakna. Hasil penelitian ini menentukan bahwa masyarakat Jawa (responden) di Yogyakarta semuanya menghayati sikap hidup Jawa dan jika hanya melihat penghayatan sabar dan nurirno irig paridurn saja terdapat 90% lebih, serta terdapat hubungan negatif yang bermakna dengan koefisien korelasi r = - 0,4619 anlara penghayatan sikap hidup Jawa dan ekspzesi emosi pada orang tua sehingga dapat meningkatkan efektivitas manipulasi keluarga. Manipulasi keluarga dapat mempengaruhi penurunan angka kekambuhan dan bersama-sama dengan obat standar dapat menurunkan skor BPRS pada kelompok penderita skimfrenia alaupun gangguan afektif.
The holistic theory states that mental development of healthy and mental disorder people is affected by internal or predisposing and environmental factors. Familv environments, a relationship between parents and children, social-economic condition, and the attitude of life of parents, are vital for children life development. This will also affect one's life mental disorder. The issue is whether the Javanese attitude of life, which is implemented by most of Javanese people, affecting a family intervention performance (family manipulation) to improve mental disorder prognosis in Yogyakarta. This study is conducted to evaluate the effects of family manipulation on caring and decreasing the recurrence rate of major mental disorders, i.e.schizophrenia and affective disorder, among Javanese people in Yogyakarta. The subjects of the study were taken from parents and their hospitalized children in Pakem Mental Hospital and Dr. Sardjito Hospital in Yogy%karta. The parents of patients were provided with several instruments, such as: Javanese attitude of life instrument, parents-children intimacy instrument, parents-children expressed emotion instrument, and family manipulation instrument. The first sample were taken by preiesi-posttest nvnequivalent comparison group design consisted of one hundred schizophrenic and affective patients group, of which each was provided with family manipulation. The second sample were taken bv pretest-posttest randomized control trial design consisted of experimental and control group 30 patients of each. The firs? result is, in patients' parents implementing of the Javanese attitude of life, accounted for 90.8% and the Javanese attitude of life negatively correlated with parents-children expressed emotion (r = - 0.4619; p = O.OOO), and positively correlated with parents-children intimacy (F 0.1961; p = 0.083). The family manipulation effect on the average of recurrence compared between schizophrenic group and affective disorders group was from 10.8 months to 16.5 months and from 11.8 months to 32.2 months Tespectively. The different effect of family manipulation between schizophrenic patients group and affective patients group was very significant that the affective group had better response than that in schizophrenic group. The second result is that the family manipulation is sufficiently successful, because the recurrence rate in 3 months (7.4% ) and 6 months (24.3%) of the treated group are lower than control group (26.7%) and 46.7% for 3 and 6 months respectively. Also, BPRS (Brief Psychiatric Rating Scale) Score in 3 months for treated group decreased to 36.7 and for control group to 37.1. in the following 3 months the treated group decreased to 32.1 and for control group to 34.1. The combination of the family manipulation and neuroieptic drug has a good effect, it is able to minimize recurrence rate and can decrease the BPRS score on either schizophrenic and affective disorder patients. Also from this study it can be improved that all the parents of patients experience the Javanese attitude of life, and there is a. sipificant negative correlation beiween the javanese attitude of life and expressed emotion, so that the attitude of life is able to increase the effectiveness of fami1y manipulation.
Kata Kunci : Penderita Skizofrenia,Kekambuhan,Manipulasi Keluarga