ARUNG PALAKKA SEBAGAI “AGENT OF CHANGE” (STUDI SOSIOLOGIS MASYARAKAT SULAWESI SELATAN PERIODE PERANG MAKASSAR)
MUHAMMAD SYAFI’I, --
2009 | Skripsi | SosiologiABSTRAKSI Muhammad Syafi’i. 2009, Arung Palakka Sebagai Agent of Change (Studi Sosiologis Masyarakat Sulawesi Selatan Periode Perang Makassar). Skripsi, Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada. Pembimbing: Dr. Partini, SU. Kata Kunci: Arung Palakka, Perang Makassar. Tak dapat dipungkiri bahwa hingga saat ini tokoh Arung Palakka ditempatkan secara kontroversial dalam catatan sejarah bangsa Indonesia dan masyarakat Sulawesi Selatan khususnya. “Konstruksi” sejarah nasional secara ekplisit memaparkan antipatinya terhadap Arung Palakka sebagai konsekuensi atas persekongkolannya dengan pihak kolonial Belanda yang dinilai mengkhianati perjuangan bangsa Indonesia dalam upaya melepaskan diri dari kolonialisme dan imperialisme. Namun demikian, di pihak lain, tak sedikit pula ditemui berbagai versi atau catatan sejarah yang menolak keabsahan konstruksi sejarah nasional di atas dan secara terang-terangan menempatkan Arung Palakka sebagai orang yang “berjasa” bagi banyak pihak atau secara tegas menempatkannya sebagai “pahlawan”-terutama bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Berdasarkan uraian singkat di atas, diakui atau tidak, pengkajian atas kedudukan dan catatan sejarah Arung Palakka faktual memiliki muatan dialektis, yakni penelaahan atas objek yang sama, pada sisi dan waktu yang berbeda, maka akan menghasilkan penjelasan yang berbeda pula. Tegas dan jelasnya, penelitian ini berupaya lebih dalam melakukan penelaahan secara sosiologis atas kedudukan Arung Palakka dalam masyarakat Sulawesi Selatan yang hingga kini tetap ditemui sisi dialektis terhadapnya. Adapun perspektif sosiologis yang digunakan sebagai “pisau bedah” (baca: instrumen analisis) dalam penelitian ini hadir melalui perspektif “habitus” Pierre Bourdieu yang mempertimbangkan pentingnya modal sosial dan modal kultural bagi status dan peran seseorang di dalam kelompok, komunitas atau masyarakatnya. Dalam melakukan pengumpulan data, penelitian ini menggunakan metode studi pustaka. Metode studi pustaka dilakukan guna menunjukkan kedudukan Arung Palakka yang “simpang-siur” dalam berbagai catatan sejarah yang ada. Melalui berbagai pengkajian dan penelahaan sosiologis secara seksama dan mendalam yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa Arung Palakka ditempatkan sebagai “pahlawan” masyarakat Sulawesi Selatan sebagai konsekuensi logis atas kesesuaian “habitus” atau modal sosial dan modal kultural yang dimilikinya dengan “habitus” atau modal sosial dan modal kultural yang dimiliki masyarakat Sulawesi Selatan.
Kata Kunci : Sejarah Lokal