Keragaman Prosesi Upacara Pernikahan Adat Jawa
SUDARSIH, Sri Astuti, Sri Astuti Sudarsih
2007 | Skripsi | SosiologiSetiap bangsa di dunia ini selalu memiliki kebudayaan. Kebudayaan dan masyarakat merupakan unsur dwi tunggal yang tidak dapat dipisahkan. Salah satu bentuk kebudayaan tersebut adalah upacara pernikahan. Upacara ini dilakukan dengan tujuan memperoleh keselamatan dalam berumahtangga. Sampai kini upacara pernikahan masih ada meski dalam bentuk sederhana, dan tidak selalu difahami betul maknanya. Dalam masyarakat Jawa pada jaman dulu, perkawinan selalu diselenggarakan dengan serangkaian acara yang unik dan rumit, namun sekarang bentuk prosesi upacara pernikahan itu mengalami perubahan, yaitu yang semula sangat diwarnai oleh bentuk dan upacara tradisional yang rumit, sekarang diwarnai oleh bentuk pesta pernikahan yang bersifat modern dan tidak selalu selengkap seperti jaman dahulu. Begitu pula yang terjadi pada upacara pernikahan di berbagai tempat di Yogyakarta pada umumnya, dan di Desa Tridadi Sleman pada khususnya. Sebagian masyarakat ada yang masihmelakukan secara secara lengkap, namun ada pula yang sudah selektif. Berkenaan dengan itu munculah rumusan permasalahan sebagai berikut : 1. Sejauhmana masyarakat mengetahui tentang keragaman makna simbolik dalam tahap tahap proses Pernikahan adat Jawa ? 2. Apa yang melatarbelakangi perubahan tahap-tahap proses pernikahan adat Jawa ? Untuk menjawab permasalahan tersebut, telah dilakukan penelitian secara kualitatif deskriptif di Desa Tridadi kecamatan Sleman, dengan hasil sebagai berikut: Dalam kehidupannya manusia memiliki simbol interaksi, baik untuk kepentingan apapun, maupun untuk hal-hal khusus seperti dalam proses dan tahap pernikahan adat. Sebagian terbesar masyarakat masih memiliki tingkat kesanggupan dan kemauan untuk melaksanakan tahap-tahap prosesi pernikahan adat secara lengkap. Didapati hubungan yang erat antara struktur sosial seperti : Usia, tingkat pendidikan, tingkat kekayaan dan tingkat pemahaman terhadap makna simbol dalam pernikahan. Di dalam melakukan upacara pernikahan adat, masyarakat juga menggunakan beberapa cara, baik verbal, oral, dan non verbal, melalui simbol-simbol interaksi. Simbol-simbol interaksi di dalam upacara pernikahan, dapat diujudkan dalam rangkaian upacara adat, baik dalam bentuk sesaji, pakaian, maupun perilakunya. Masyarakat berusaha memenuhi tata cara adat pernikahan berdasarkan beberapa faktor pertimbangan,baik faktor internal, maupun eksternal. Faktor internal yang dimaksudkan di sini adalah faktor yang muncul dari dalam diri mempelai sendiri, bukan dari pihak lain. Misalnya: (1) Faktor fisik (umur, berat badan);(2) Psikis ; (3) Kondisi Ekonomi. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang muncul dari luar diri mempelai, seperti : (1) Struktur Sosial, misalnya tingkat pendidikan, tingkat pemilikan dan pendapatan ; (2) Kebudayaan ;maupun (3) Norma Sosial.
Kata Kunci : Perkawinan; Jawa