ANALISIS RISIKO PADA RANTAI PASOK DAGING SAPI DI KABUPATEN BANTUL, DIY
DIAN ISLAMIYATI , Dr. Kuncoro Harto Widodo, S.TP, M.Eng ; Dr. Wagiman, S.TP, M.Si
2017 | Skripsi | S1 TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIANPermintaan akan daging sapi di D.I.Yogyakarta mengalami peningkatan beberapa tahun terakhir. Banyaknya tingkatan pelaku rantai pasok daging sapi dan adanya pemotongan sapi potong yang tidak melalui Rumah Potong Hewan (RPH) melainkan Tempat Potong Hewan (TPH), mengakibatkan timbulnya beberapa risiko. Para pengusaha daging sapi/jagal yang berjualan daging juga mengeluhkan sering mengalami kekurangan maupun kelebihan daging sapi setiap harinya. Faktor kendala ini merupakan bentuk risiko yang harus dihindari. Selain itu kondisi bahwa daging sapi merupakan produk yang perisabel mempunyai potensi timbulnya beberapa risiko. Risiko yang dialami masing-masing memiliki kejadian dan dampak yang berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk identifikasi tier pada rantai pasok daging sapi di Kabupaten Bantul, Identifikasi faktor-faktor risiko pada rantai pasok daging sapi di Kabupaten Bantul dan Mitigasi yang tepat terhadap risiko yang muncul pada setiap tier yang ada. Pengumpulan data tersebut menggunakan teknik convenience samplingdan snowball sampling melalui indepth interview dan akan dianalisis berdasarkan standar ISO 31000:2009. Hasil penelitian teridentifikasi sebanyak 19 risiko dari 6 tier yang ada. Terdapat 7 risiko yang termasuk dalam level avoid risk. Tindakan mitigasi risiko yang diberikan pada tier peternak berdasarkan analisis risiko yang dilakukan yaitu melakukan perawatan sapi secara berkala dan tidak terburu-buru untuk menjual sapi, pada tier pedagang sapi melakukan pengecekan kondisi sapi dan segera melakukan penjualan, pada tier pemasok melakukan penimbangan berat hidup sapi dan membeli sapi dengan jumlah sesuai permintaan pasar, pada tier pengusaha daging sapi dengan menjual daging dengan kuantitas sesuai permintaan pasar dan melakukan pengecekan alat transportasi, pada tier pedagang retail daging sapi dengan melakukan perjanjian pembelian, dan untuk tier konsumen dengan segera melakukan konsumsi dan pengecekan sebelum membeli.
The demand for beef in D.I.Yogyakarta has increased in recent years. Many levels of supply chain actors and the butchers that are not through slaughterhouse (RPH) but slaughterhouses (TPH) result in some risks. Butchers who sell beef also complain about frequent shortages and excess beef every day. This constraint is a form of risk that should be avoided. The condition that beef is a perishable product has the potential for some risks. The risks experienced by each have different events and impacts. The aims of this research are identify beef supply chain in Bantul, identify risk factors of beef supply chain in Bantul and mitigation appropriate to the risks that appear on each tier. The data collection uses convenience sampling and snowball sampling technique through indepth interview and it will be analyzed according to ISO 31000: 2009 standards. From the research results, there were 19 risks from the existing 6 tiers. There are 7 risks included in the category of risk avoidance. Risk mitigation measures given to tier breeders based on the risk analysis carried out are periodic cattle care and not in a hurry to sell the cattle, the tier of cattle traders to check the condition of the cow and immediately make a sale, the tier suppliers weigh the live weight of cows and buy cattle by the amount demanded by the market, at the beef business tier by selling the meat in quantity as per market demand and checking the means of transportation, the tier of the beef retailer by making the purchase agreement, and for the consumer tier to immediately consume and check before buying.
Kata Kunci : daging sapi, risiko, rantai pasok, ISO 31000