Bertahan dan Beradaptasi di Wilayah Frontier: Buruh dalam Industri Minyak di Kalimantan Tenggara, 1900an-1930an
HENDRA PERMANA, Uji Nugroho Winardi, M.A.
2017 | Skripsi | S1 ILMU SEJARAHPenelitian ini membahas kehidupan sehari-hari buruh sebagai usaha untuk bertahan dan beradaptasi dalam frontier minyak di Kalimantan Tenggara pada kurun waktu 1900an sampai 1930an. Kalimantan Tenggara pada awalnya tidak dianggap sebagai wilayah strategis bagi pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Namun, pada akhir abad ke-19 menjadi salah satu tempat penting dalam perluasan ekonomi kolonial karena ditemukannya minyak bumi. Akan tetapi ekspansi itu tidak diimbangi dengan pasokan tenaga kerja karena wilayah Kalimantan Tenggara yang dikategorikan sebagai sebuah wilayah frontier memiliki penduduk yang sedikit. Buruh-buruh banyak didatangkan dari luar terutama Jawa, Tiongkok, Asia Selatan, Makassar, dan wilayah timur Hindia-Belanda. Usaha bertahan hidup dan beradaptasi buruh di lingkungan frontier minyak dipaparkan secara terperinci melalui beberapa variabel yang digolongkan menjadi empat kelompok: fasilitas penunjang kehidupan, kondisi mental, hiburan, dan aktivitas politik. Di kelompok pertama, kondisi buruh digambarkan melalui fasilitas-fasilitas dasar yang menjadi kewajiban dan hak buruh, seperti pekerjaan, upah, pangan, tempat tinggal, dan perawatan kesehatan. Sementara itu, kondisi mental buruh di frontier minyak berkaitan erat dengan kondisi lingkungan frontier yang keras dan liar. Hal tersebut ditunjukkan dengan banyaknya insiden kekerasan dan hukuman yang diterapkan di wilayah tersebut. Dalam kondisi kehidupan yang serbakeras, buruh juga membutuhkan hiburan sebagai pengalihan diri dari tekanan pekerjaan dan lingkungan. Namun, kondisi buruh di frontier minyak mengalami perubahaan besar sejak Depresi Ekonomi 1930an. Perubahan kondisi buruh tersebut bermuara pada kemunculan aktivitas politik melalui pembentukan serikat pekerja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kondisi keseharian buruh sangat tergantung dari berbagai fasilitas yang diberikan oleh perusahaan minyak. Kehadiran negara nyaris tidak dirasakan di lingkungan frontier minyak karena perusahaan memiliki kuasa yang melebihi negara. Kekuasaan tersebut, dalam beberapa hal, mendorong konflik antarburuh maupun antara buruh dan majikan.
This research examines the daily life of labourer to survive and to adapt in the oil frontier in Southeast Kalimantan on the period of 1900s-1930s. Southeast Kalimantan at first was not considered as a strategic area for the Dutch colonial government. However, in the end of the 19th century it became an important region for economic expansion of the colonial government when the crude oil was found. Nevertheless, the expansion was not followed by sufficient labourer since Southeast Kalimantan suffered from scarce population of people. The labourers then imported from other areas, especially Java, China, South Asia, Makassar, and eastern part of the Netherlands Indie. The struggle to survive and to adapt in the frontier oil was specifically explained by some variables classified on four categories: the life-support facilities, mental condition, entertainment, and political activity. In the first group, the condition of labourer was described by the basic facilities of the responsibility and the right of the labourer, such as work, wage, nutrition, housing, and health treatment. Meanwhile, the mental condition of labourer in the oil frontier strongly related to the hard and wild environment of frontier. It was indicated by the high intensity of violent action and punishment in that area. In the unfriendly situation of frontier, labourer need some entertainments to run off from the work and life pressure. However, the condition of labourer in oil frontier drastically changed since the 1930s Economic Depression. The alteration of labourer condition culminated in the emerging of political activity through the creation of the labour union. This research concludes that the condition of labourer in oil frontier depended on the facilities given by the oil company. The presence state was hardly felt in the oil frontier because the company had bigger power. The power, in some ways, boosted the conflict inter-labour and labour-employer as well.
Kata Kunci : buruh, kehidupan sehari-hari, frontier minyak