ROBOHNYA TOTEM KAMI: PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DAN PUDARNYA RELIGIUSITAS DI KALIMANTAN BARAT
ATMAEZER HARIARA SIM, Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono, M.A.
2017 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYABagi orang Dayak Desa di Kampung Nek Gambang, Tapang Madu (Koompasia excelsa) dipercaya sebagai totem, daripada sekedar pohon madu. Dalam fungsi relijius, Tapang Madu dianggap sebagai media utama bagi ritus inisiasi masyarakat Desa, dan juga ia memiliki posisi vital dalam mitos asal muasal mereka. Dalam fungsi sosial, Tapang Madu juga merupakan pernyataan klan, ia adalah pohon keluarga yang mampu mencatat sampai dengan nenek moyang 9x keatas. Masih berhubungan dengan fungsi sosialnya, Tapang memproduksi madu yang sangat berharga bagi masyarakat Dayak Desa. Dalam fungsi psikologisnya, Tapang Madu dilindungi oleh tabu penebangan. Namun demikian, penelitian mengungkapkan bahwa walaupun dianggap sakral, totem Tapang Madu secara massal dirobohkan oleh kelompok diluar masyarakat dan juga masyarakat Nek Gambang sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk memahami alasan dibalik robohnya totem Tapang Madu, baik secara fisik maupun simbolik. Robohnya sebuah totem akan mengundang kehadiran yang baru. Dalam konteks ini, kelapa sawit disinyalir sebagai salah satu pengganti yang berpotensi. Oleh karenanya, studi lebih lanjut terhadap kemungkinan bertransformasinya totem Tapang Madu menjadi Kelapa Sawit juga dilaksanakan.
For the Dayak Desa people of Kampung Nek Gambang, Tapang Madu (koompassia excelsa) is believed as their totem rather than just a bee tree. In religious function, Tapang Madu is considered as the main media for Desa’s initiation ritual, as well as having vital position in their myth of origin. In its social function, Tapang Madu is also a statement of clanship, serving as a family tree which records up to nine late generations of ancestors. Relating to its social function, the Tapang produces honey which is invaluable to the Dayak Desa. In its psychological function, Tapang Madu is protected by a collapsing-taboo. Nevertheless, research shows that even though it is considered sacred, Tapang Madu totem has been massively demolished by external groups and even the people of Nek Gambang themselves. This research is aimed to understand the reason for the fall of Tapang Madu totem both physically as well as symbolically. The fall of a certain totem invite a rise of a new one, in this case the Palm Oil Tree is considered as the potential substitute. Thus, further study on the possibilities of totemic transformation from Tapang Madu to Palm Oil Tree is also conducted.
Kata Kunci : Totem, Tapang Madu, Dayak Desa, Demolition, Palm Oil Tree