PERBANDINGAN KEJADIAN DISFUNGSI SEKSUAL PRA DAN PASCAOPERASI HISTEREKTOMI VAGINAL TOTAL-KOLPOPERINEORAFI ATAS INDIKASI PROLAPS ORGAN PANGGUL
EKA FRANSISKA TIMORIA, dr. Muhammad Lutfi, SpOG(K).; dr.Nuring Pangastuti, SpOG(K)
2016 | Tesis-Spesialis | SP Ilmu Kebidanan dan Penyakit KandunganLatar belakang: Histerektomi merupakan prosedur pembedahan ginekologi yang paling sering dilakukan. Indikasi terbanyak dilakukannya histerektomi pada wanita postmenopause dan jumlahnya berkisar 15-18 % dari seluruh tindakan histerektomi pada semua kelompok umur yaitu prolaps organ panggul. Tujuan utama dari pembedahan pada prolaps organ panggul tidak hanya keberhasilan untuk memperbaiki anatomi akibat benjolan melainkan juga pengaruh pembedahan terhadap kualitas hidup. Peningkatan fungsi seksual, traktus urinarius dan traktus gastrointestinal merupakan pengukuran hasil yang penting ketika mengevaluasi terapi. Tujuan: Mengetahui perbandingan kejadian disfungsi seksual pra dan pascaoperasi histerektomi vaginal total-kolpoperineorafi atas indikasi prolaps organ panggul Metode: Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimental (one sample pre&post test design). Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta dan RSUD Tjitrowardoyo Purworejo sejak Januari 2015 sampai dengan Mei 2016. Disfungsi seksual dinilai pra dan pascaoperasi 12 minggu dengan menggunakan kuesioner Female Sexual Function Index (FSFI). Data dianalisis menggunakan SPSS. Perbandingan hasil disfungsi seksual pra dan pascaoperasi 12 minggu diuji dengan McNemar. Analisis bivariat menggunakan uji Fischer. Hasil: Penelitian ini melibatkan 20 subyek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kejadian disfungsi seksual pra dan pascaoperasi 12 minggu (p>0,05). Faktor usia istri berpengaruh terhadap kejadian disfungsi seksual pascaoperasi 12 minggu (p=0,008). Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kejadian disfungsi seksual pra dan pasca operasi 12 minggu. Faktor usia istri berpengaruh terhadap kejadian disfungsi seksual pascaoperasi 12 minggu.
Background: Hysterectomy is the most commonly perfomed gynecologic surgery. The most incidence hysterectomy on post menopause women, about 1518% are pelvic organ prolapse. The major concerns after pelvic organ prolapse (POP) surgery include not only successful anatomical correction of any protrusion but also the impact surgery on the quality improvements in sexual function and those of the lower urinary and gastrointestinal tracts are important outcome measures when treatments are evaluated. Objective: To study the comparison of female sexual dysfunction between pre and post operative total vaginal hysterectomy-colpoperineoraphy Methods: This study used quasi experimental (one sample pre&post test design). The research was done by collecting primary data that met the inclusion and exclusion criterias in Sardjito Hospital Yogyakarta and Tjitrowardoyo Hospital Purworejo from January 2015 until May 2016. Sexual dysfunction was measured before and 12 weeks after surgery using Female Sexual Function Index(FSFI). Data were analyzed with SPSS. Comparison of pra and 12 weeks post operative female sexual dysfunction was appraised using McNemar. Bivariat analysis with Fischer test. Result: This study involved 20 subjects who met inclusion and exclusion criterias. On bivariate analysis, there were not statistical differences of sexual dysfunction incidence between pra and 12 weeks after surgery. Wife age affected the incidence of sexual dysfunction on 12 weeks after surgery (p=0.008). Conclusion: There were no statistical differences of sexual dysfunction between pre and post operative hysterectomy-colpoperineoraphi. Wifes age could affect incidence of sexual dysfunction on 12 weeks after surgery.
Kata Kunci : histerektomi vaginal total, kolpoperineorafi, disfungsi seksual, total vaginal hysterectomy, colpoperineoraphy, sexual dysfunction