Laporkan Masalah

ANTARA ORANG PASISIR DAN ORANG BATAK DI TAPANULI: KESADARAN IDENTITAS ETNIK DI BARUS DAN SIBOLGA, 1842-1980-AN

IDA LIANA TANJUNG, Prof. Dr. Bambang Purwanto, M.A. ; Dr. Nur Aini Setiawati

2016 | Disertasi | S3 Sejarah

Penelitian dengan judul Antara Orang Pasisir dan Orang Batak di Tapanuli: Kesadaran Identitas Etnik di Barus dan Sibolga, 1842-1980-an dilatarbelakangi oleh adanya kelenturan identitas etnik di kalangan orang Pasisir dan munculnya kesadaran identitas Batak di Barus dan Sibolga. Selama ini, realitas tersebut kurang mendapat perhatian dalam studi tentang etnisitas di Sumatera Utara, sebab penelitian lebih banyak difokuskan pada daerah pantai timur Sumatera. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perubahan dominasi ekonomi dan politik yang berpengaruh terhadap kesadaran identitas etnik di kalangan orang Pasisir dan orang Batak, menjelaskan proses terbentuknya eksklusivitas etnik Batak dan menjelaskan identitas orang Pasisir dan menguatnya identitas orang Batak di wilayah pesisir Tapanuli, serta untuk menjelaskan dominasi orang Batak di wilayah pesisir Tapanuli. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang menggunakan sumber tulisan dan lisan. Sumber tulisan terdiri dari arsip, surat kabar dan majalah sejaman yang diperoleh dari Arsip Nasional Republik Indonesia dan perpustakaan Nasional di Jakarta. Selain itu, Beberapa laporan perjalanan dari para pejabat kolonial yang diterbitkan dalam jurnal di Belanda seperti TBG dan BKI. Sumber-sumber visual seperti gambar dan peta yang diperoleh dari Perpustakaan Nasional dan KITLV juga digunakan. Sumber lisan diperoleh dari tradisi lisan dan serangkaian wawancara dengan para narasumber di Barus dan Sibolga. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa identitas etnik orang Pasisir dan orang Batak di pesisir Tapanuli tidak statis. Identitas dua kelompok etnik ini terus menerus mengalami perubahan sejalan dengan proses historis yang dialaminya. Saat terjadi perubahan dominasi ekonomi dan politik di Tapanuli, identitas orang Pasisir yang terbentuk dari percampuran etnik (hibrid) antara Batak, Minangkabau dan Aceh di rekonstruksi oleh kolonial Belanda. Begitu juga dengan identitas orang Batak, pada akhir abad ke-19, orang Batak yang awalnya inklusif dengan orang Pasisir kemudian mengalami proses eksklusivisme. Batas-batas agama dan budaya antara orang Pasisir dan Batak semakin ditegaskan oleh kolonial Belanda melalui kristenisasi dan pendidikan Barat. Di satu sisi, kebijakan segregatif dan diskriminatif etnik kolonial telah menimbulkan kesadaran identitas etnik pada orang Batak, namun disisi lain mengakibatkan melemahnya identitas etnik Pasisir.

This research is entitled Between Pasisir and Batak People in Tapanuli: The Awareness of Ethnic Identity in Barus and Sibolga, 1842-1980s. Its background is elasticity of ethnic identity of Pasisir and Batak people identity awareness emerged in Barus and Sibolga. The reality is experiencing lack of attention in study of ethnicity in North Sumatra, due to the research are more focused on in the east coast of Sumatra area. This research is aimed to explain the change of economic and political domination that influence towards ethnic identity awareness in Pasisir and Batak people, to find out the exclusivity process of Batak and to explain Batak people domination in the coast of Tapanuli. The methods used in this research are historical methods which are using written and oral sources. The written sources consist of archives, contemporary newspapers and magazines that obtained from National Archive of Republic of Indonesia and National Library in Jakarta. In addition, some reports of journey from colonial officials that published in journals in the Netherlands, such as TBG and BKI. Visual sources such as pictures and maps that are obtained from National Library and KITLV also used in this research. Oral sources are obtained from oral tradition and a series of interviews with the informants in Barus and Sibolga. The research result shows that ethnic identity of Pasisir and Batak are not static in the coast of Tapanuli. Their ethnic identity continuously change in line with historical processed. When there were changes of economic and political domination in Tapanuli, ethnic identity of Pasisir formed from mixed ethnic (hybrid) among Minangkabau, Batak and Aceh ethnic groups were reconstructed by ethnic group and Dutch colonial government. As well as the identity of Batak people, in the late of 19th century, identity of Batak people who were at first inclusive to Pasisir people, later on are experiencing exclusivism process. Religion and culture borders between Pasisir and Batak people are increasingly affirmed by the the Dutch colonial through christenisation and Western education. On one hand, colonial segregation policy and ethnic discrimination has evoked ethnic identity awareness of Batak people, however on the other hand it cause the weaken of Pasisir ethnic identity.

Kata Kunci : Orang Pasisir, Orang Batak, Kesadaran Identitas Etnik, Tapanuli, Barus, Sibolga, Pasisir People, Batak, Ethnic Identity Awarness, Tapanuli, Barus, Sibolga.

  1. S3-2016-295900-abstract.pdf  
  2. S3-2016-295900-bibliography.pdf  
  3. S3-2016-295900-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2016-295900-title.pdf