COMPARATIVE STUDY ON DERMATOPHYTOSIS OF PEDIGREE AND NON-PEDIGREE DOGS: A PREVIEW

Penulis

Qistina, Hasnan

Pembimbing: Dr. drh. Soedarmanto Indarjulianto


ABSTRACT: Canine dermatophytosis is influenced by environmental, care and grooming management. In Yogyakarta, Indonesia, pedigree dogs usually receive better grooming than non-pedigree dogs, especially those with long hair or fur. This research aims to compare the occurrence of dermatophytosis between pedigree and non-pedigree dogs. A total sample of 24 dogs, consist of 13 pedigree dogs and 11 non-pedigree dogs, that is suspected with dermatitis were used in this study. The dogs were inspected for clinical signs, screened with Wood�s Lamp and their skin scrape samples were cultured in modified Sabouraud's Dextrose Agar for fungi identification for definitive diagnosis. The results of this study showed skin scrape sample from 9 of 13 (69 %) pedigree dogs and 3 of 11 (27 %) non-pedigree dogs were cultured as Microsporum canis and diagnosed as dermathophytosis. All dermatophytosis-positive dogs showed signs of alopecia, but only 66.7% of samples showed fluorescense in UV examination. Pedigree dogs showed a complete exhibition of dermatophytosis clinical signs such as alopecia, erythema, pruritus and crust as compared to non-pedigree dogs. In conclusion, pedigree dogs are more susceptible to canine dermatophytosis compared to non-pedigree dogs

INTISARI: Dermatofitosis dipengaruhi oleh lingkungan dan manajemen perawatan. Di Yogyakarta, Indonesia, anjing ras biasanya menerima perawatan yang lebih baik daripada anjing bukan ras, terutama mereka dengan bulu dan rambut panjang. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kejadian dermatofitosis antara anjing ras dan anjing bukan ras. Sebanyak 24 sampel anjing, terdiri dari 13 anjing ras dan 11 anjing bukan ras, yang diduga dengan dermatitis digunakan dalam penelitian ini. Anjing-anjing itu diperiksa untuk tanda-tanda klinis, diskrining dengan Wood's Lamp dan kerokan kulit mereka dikultur dalam Sabouraud Dextrose Agar yang dimodifikasi untuk identifikasi jamur sebagai diagnosis definitif. Hasil penelitian ini menunjukkan sampel kerokan kulit dari 9 dari 13 (69%) anjing ras dan 3 dari 11 (27%) anjing campuran dikultur sebagai Microsporum canis dan didiagnosis sebagai dermatofitosis. Semua anjing dermatofitosis-positif menunjukkan tanda-tanda alopecia, tetapi hanya 66,7% dari sampel menunjukkan fluoresensi dalam pemeriksaan UV. Anjing ras menunjukkan pameran lengkap dermatofitosis dengan tanda-tanda klinis seperti alopecia, eritema, pruritus dan kerak dibandingkan dengan anjing campuran. Kesimpulannya, anjing ras lebih rentan terhadap dermatofitosis dibandingkan dengan anjing bukan ras.

Kata kunci pedigree dog, non-pedigree dog, dermatophytosis
Program Studi S1 KEDOKTERAN HEWAN UGM
No Inventaris
Deskripsi
Bahasa Indonesia
Jenis Skripsi
Penerbit [Yogyakarta] : Universitas Gadjah Mada, 2016
Lokasi Perpustakaan Pusat UGM
File Tulisan Lengkap dapat Dibaca di Ruang Tesis/Disertasi
  • Anda dapat mengecek ketersediaan versi cetak dari penelitian ini melalui petugas kami dengan mencatat nomor inventaris di atas (apabila ada)
  • Ketentuan Layanan:
    1. Pemustaka diperkenankan mengkopi cover, abstrak, daftar isi, bab pendahuluan, bab penutup/ kesimpulan, daftar pusatak
    2. Tidak diperbolehkan mengkopi Bab Tinjauan Pustaka, Bab Pembahasan dan Lampiran (data perusahaan/ lembaga tempat penelitian)
    3. Mengisi surat pernyataan, menyertakakan FC kartu identitas yang berlaku

<< kembali