Citra Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam Meme Politik di Sosial Media (Analisis Semiotika Meme Politik dalam Akun @demo_krazy di Sosial Media Instagram)

Penulis

Fitria Yuliani

Pembimbing: Novi Kurnia, M.Si., M.A., Ph.D.; Wisnu Martha Adiputra, S.IP., M.Si.


ABSTRACT: Meme phenomenon which is popular and growing on the internet, especially in social media nowadays not only be a form of individuals creativity, humor, or satire. More than that, meme with a simple and entertaining concept has given a new color in the twisted democracy and political communication on public sphere, which memes become a new medium for political communication with political messages that is displayed through the symbols (verbal and visual) contained in it. Based on that case, this research tried to see the role of memes to communicate a political message that is the image of the House of Representatives (DPR) through verbal and visual symbols that contained in it. Meme which analyzes in this research are displayed by @demo_krazy in social media instagram, with focus research that is political message about DPR image that communicated by @demo_krazy through memes. That political memes analyzed by using Roland Barthes semiology techniques to produce the meaning of the messages that shown by @demo_krazy. The meaning of that message was not reffering to the image directly, but through analysis of image-forming components according to Eric Louw, that is identity, beliefs and ideology, then can be seen that the image are displayed by @demo_krazy about DPR is a negative image. Because DPR identity which is shown by @demo_krazy through the political meme as a representatives of the people are become weaker, and the members are attached to cases of corruption (corrupt). That identity still can not be separated from the shadows of DPR earlier period which was looked upon negatively by the public. Besides that, public trust in DPR also have low considered because of the performance, attitudes, and policies were deemed incompatible with people's expectations. Ideology @demo_krazy about "how the DPR should be" also produces assessment that the DPR still seems bad seen from DPR professionalism, credibility, competence, knowledge, morals and work ethic.

INTISARI: Fenomena meme yang populer dan berkembang di internet, khususnya di sosial media dewasa ini tidak hanya menjadi wujud dari kreatifitas individu dan bentuk dari humor atau sindiran belaka. Lebih dari itu, meme dengan konsepnya yang sederhana dan menghibur telah memberikan warna baru dalam geliat demokrasi dan komunikasi politik di ranah publik, dimana meme menjadi media baru bagi komunikasi politik dengan pesan-pesan politik yang ditampilkan melalui simbol-simbol (verbal dan visual) yang terkandung di dalamnya. Berangkat dari hal tersebut, penelitian ini mencoba melihat peranan meme dalam mengkomunikasikan pesan politik yakni citra Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melalui simbol-simbol verbal maupun visual yang terkandung di dalamnya. Meme yang kemudian di analisis dalam penelitian ini adalah meme yang ditampilkan oleh akun @demo_krazy di sosial media instagram, dengan fokus penelitian adalah pesan politik terkait citra DPR yang berusaha dikomunikasikan oleh akun @demo_krazy melalui meme politik yang ditampilkannya. Meme politik tersebut di analisis dengan menggunakan teknik semiologi Roland Barthes untuk menghasilkan pemaknaan atas pesan-pesan yang berusaha ditampilkan oleh akun @demo_krazy. Pemaknaan atas pesan tersebut pun tidak lantas merujuk pada citra DPR secara langsung, namun melalui analisis komponen pembentuk citra menurut Eric Louw yakni identitas, kepercayaan dan ideologi kemudian dapat diketahui bahwa citra DPR yang ditampilkan oleh akun @demo_krazy melalui meme politik tersebut adalah citra yang negatif. Dikatakan demikian karena identitas DPR yang ditampilkan oleh akun @demo_krazy melalui meme politik tersebut adalah identitas DPR sebagai wakil rakyat yang semakin melemah, dan anggotanya yang lekat dengan kasus korupsi (koruptor), identitas itu pun masih tidak dapat dilepaskan dari bayang-bayang DPR periode sebelumnya yang di pandang negatif oleh publik karena kasus-kasus yang menimpanya. Selain itu, kepercayaan publik terhadap DPR pun di nilai rendah karena kinerja, sikap, dan kebijakan yang dirasa tidak sesuai dengan harapan rakyat. Ideologi akun tentang “bagaimana DPR yang seharusnya” pun menghasilkan penilaian bahwa DPR masih tampak buruk di lihat dari profesionalitas kerja, kredibilitas, kompetensi, pengetahuan, moral dan etika kerja yang dimiliki.

Kata kunci Meme, Social Media, Political Image, DPR.
Program Studi S2 Ilmu Komunikasi UGM
No Inventaris
Deskripsi
Bahasa Indonesia
Jenis Tesis
Penerbit [Yogyakarta] : Universitas Gadjah Mada, 2015
Lokasi Perpustakaan Pusat UGM
File Tulisan Lengkap dapat Dibaca di Ruang Tesis/Disertasi
  • Anda dapat mengecek ketersediaan versi cetak dari penelitian ini melalui petugas kami dengan mencatat nomor inventaris di atas (apabila ada)
  • Ketentuan Layanan:
    1. Pemustaka diperkenankan mengkopi cover, abstrak, daftar isi, bab pendahuluan, bab penutup/ kesimpulan, daftar pusatak
    2. Tidak diperbolehkan mengkopi Bab Tinjauan Pustaka, Bab Pembahasan dan Lampiran (data perusahaan/ lembaga tempat penelitian)
    3. Mengisi surat pernyataan, menyertakakan FC kartu identitas yang berlaku

<< kembali