Proses Integrasi Nasional Warga Eks Pengungsi Timor Timur di Atambua, Nusa Tenggara Timur

Penulis

Gloria E Barus

Pembimbing: Dr. Nur Rachmat Yuliantoro, MA


ABSTRACT: Due to 1999 Referendum in which the majority East Timorese voted for their independence, around 250.000 people fled what used to be Indonesian province to neighboring cities in West Timor, either willingly or forced. One of the largest camp was set up in Atambua, located in the center of Belu District. Some of these displaced people were facilitated to return to what had became the Democratic Republic of Timor Leste, while some remain living in Atambua as Indonesian citizen. As new comers and victims of political distress, they face imminent challenge of integrating into the society. This thesis describes the process of national integration in four dimensions, that is social, economic, political, and cultural, each with their own challenges. Cultural ties between locals and former East Timorese is an advantage, but not a guarantee that national integration will be achieved easily, and definitely cannot undermine the importance of the other aspects. National integration is also described as a multidirectional process which involves multiple actors. In this case, the three main actors are goverments (both local and central), local citizen, and former East Timorese. The role of all three actors in the national integration process are analized using the multidimensional nexus. The result shows that national integration process in Atambua has not went well throughout these years. Horizontally, the society did not move towards an integrated society, they are instead becoming more of a parallel society. While the government, not aware to the danger of this situation, tends to be less involved and let the society to be self-integrated.

INTISARI: Sebagai dampak dari Referendum tahun 1999 di mana mayoritas warga Timor Timur memilih untuk merdeka, sekitar 250.000 warga meninggalkan Timor Timur menuju Timor Barat, baik secara sukarela atau terpaksa. Salah satu lokasi pengungsian terbesar dibangun di Atambua, pusat dari Kabupaten Belu. Sebagian pengungsi kembali ke Timor Leste, sementara sebagian yang lain menetap di Atambua sebagai Warga Negara Indonesia. Sebagai pendatang dan korban dari konflik politik, mereka menghadapi tantangan untuk berintgrasi ke dalam masyarakat. Skripsi ini menjelaskan proses integrasi nasional dalam empat dimensi, yaitu sosial, ekonomi, politik, dan budaya, masing-masing dengan tantangannya tersendiri. Ikatan budaya antara warga lokal dan warga eks Timor Timur menjadi keuntungan tersendiri, namun tidak menjamin bahwa integrasi nasional dapat dicapai dengan mudah, serta tidak dapat mengurangi pentingnya aspek-aspek lain. Integrasi nasional juga dijelaskan sebagai sebuah proses multi arah yang melibatkan berbagai aktor. Dalam kasus ini, tiga aktor utamanya adalah pemerintah (lokal maupun pusat), warga lokal, serta warga eks Timor Timur. Hasil dari pembahasan menunjukkan bahwa proses integrasi nasional di Atambua selama ini belum berjalan dengan baik. Secara horizontal, masyarakat tidak berubah menjadi masyarakat yang terintegrasi, tetapi justru menjadi masyarakat yang paralel. Sementara itu pemerintah yang kurang menyadari bahaya dari situasi ini, cenderung kurang terlibat dan membiarkan terjadinya swa-integrasi.

Kata kunci Integrasi Nasional, Atambua, Eks Timor Timur, Integrasi Multiarah
Program Studi S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL UGM
No Inventaris
Deskripsi
Bahasa Indonesia
Jenis Skripsi
Penerbit [Yogyakarta] : Universitas Gadjah Mada, 2015
Lokasi Perpustakaan Pusat UGM
File Tulisan Lengkap dapat Dibaca di Ruang Tesis/Disertasi
  • Anda dapat mengecek ketersediaan versi cetak dari penelitian ini melalui petugas kami dengan mencatat nomor inventaris di atas (apabila ada)
  • Ketentuan Layanan:
    1. Pemustaka diperkenankan mengkopi cover, abstrak, daftar isi, bab pendahuluan, bab penutup/ kesimpulan, daftar pusatak
    2. Tidak diperbolehkan mengkopi Bab Tinjauan Pustaka, Bab Pembahasan dan Lampiran (data perusahaan/ lembaga tempat penelitian)
    3. Mengisi surat pernyataan, menyertakakan FC kartu identitas yang berlaku

<< kembali