T Pra p

Pemaknaan Novel Bekisar Merah dan Belantik dengan teori strukturalisme Levi-Strauss dan Hermeneutika Geertz

Penulis

Prakoso, Teguh

Pembimbing: Prof.Dr. Rh. Djoko Pradopo


Penelitian ini bertujuan menerapkan teori strukturalisme Lévi-Strauss dan hermeneutika Geertz dalam novel Bekisar Merah dan Belantik (dwilogi BM). Kedua novel tersebut menarik untuk dipilih sebagai objek analisis karena peristiwa yang diceritakan diduga memiliki pola struktur yang relatif tetap dan bentuk-bentuk cerita yang bertransformasi seperti pemikiran yang terdapat dalam teori strukturalisme Lévi-Strauss. Selain itu, selama ini teori strukturalisme Lévi- Strauss ini juga lebih banyak digunakan dalam bidang antropologi guna memecahkan mitos atau dongeng yang masih dalam bentuk cerita lisan. Struktur cerita yang ditemukan kemudian ditafsirkan dengan hermeneutika Geertz. Konflik yang terdapat dalam novel dwilogi BM sangat kompleks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur cerita novel BM memiliki pola-pola dan relasi yang tetap. Cerita tentang kehidupan Lasi, baik ketika menjadi istri Darsa maupun menjadi istri Handarbeni, ternyata memiliki pola struktur cerita yang terjalin satu sama lain secara sedemikian rupa sehingga yang tampak adalah sejumlah variasi yang bergerak di sekitar tema tentang lika-liku kehidupan perkawinan si Bekisar Merah ini. Lasi merupakan titik sentral penceritaan yang relasi-relasi dan oposisi-oposisinya memiliki pola yang bertransformasi. Kumpulan relasi dan oposisi hadir dalam kerangka fungsi untuk memunculkan makna terjerembabnya Lasi dalam komunitas kota Jakarta yang asing bagi dirinya adalah sesuatu yang dapat diduga. Lasi sendiri, meski telah hidup makmur di kota dan akhirnya kembali ke desa, berada di antara desa dengan kota. Artinya, karena interaksinya dengan komunitas kota, seperti pola dan pengalaman hidupnya, ia bukan lagi orang desa yang lugu. Namun, karena kehidupan kota tetap memunculkan relasi-relasi yang ‘asing’ (seperti perkawinannya dengan Handarbeni), ia tetap tidak dapat masuk dalam wilayah metropolitan. Pola ini juga menggambarkan prinsip harmonisasi bahwa sesuatu bergerak dari suatu titik dan akan kembali lagi ke titik semula. Dengan kata lain, rangkaian cerita novel dwilogi BM bergerak dalam sebuah frame tertentu, dalam sebuah bingkai yang telah pasti. Desa yang digambarkan lebih memiliki nilai positif dalam hal interaksi antarmanusia dibandingkan dengan kota. Dalam kerangka pencarian deep structure, interaksi antarmanusia seperti yang dimiliki masyarakat pedesaanlah yang dianggap layak untuk diteladani dan patut menjadi bahan renungan bersama karena kemewahan dan fasilitas yang diberikan Handarbeni secara berlebihan ternyata tidak dapat membuat jiwa Lasi tenteram.

The research aims to apply Levi-Strauss‘s structuralism and Geertz’s hermeneutic theories into the novels Bekisar Merah and Belantik. These novels are chosen as the object of analysis considering that the events narrated in the novels are assumed to have a relatively fixed structure pattern as well as narrative forms which transform like the ideas in the Levi-Strauss’s structuralism theory. In addition, the theory has been widely used in the field of Anthropology to reveal myths or legends in oral forms. The narrative structure identified by applying Levi-Strauss’s theory is then interpreted using Geertz’s hermeneutic. The novel presents a very complicated conflict. The analysis results reveal that the narrative structure of Bekisar Merah follows fixed relation and patterns. The stories of Lasi’s life, both when she is Darsa’s wife and when she is Handarbeni’s wife, show interrelated narrative patterns in such a way that they appear as a number of variations going around the central theme, i.e., the marriage life of the ‘Bekisar Merah’. Lasi is the central point of the narration whose relations and oppositions have a transforming pattern. The collection of relation and opposition exists in the framework of function to present the meaning of Lasi’s downfall in the urban community of Jakarta, which is alien to her, as predictable. Lasi herself, despite her prosperous life and her return to village, is dwelling in the middle between city and village lives. It means that due to her interaction with urban community as her lifestyle and life experience, she is no longer a naïve villager. However, as city life continues to pose “strange” relations (like her marriage with Handarbeni), she remains unable to enter the metropolitan life. Such a pattern also describes the principle of harmonization, in that something departs from one point and returns to the same point later at the end. In other words, the plot of the story in the novel develops within a certain fixed frame. The village with its positive values in terms of human interaction is opposed to the city. In search for the deep structure, such human interaction as in village community is considered better and, thus, deserves to be the model. It also feeds our thought that affluent glamour and facilities Handarbeni provided for Lasi cannot bring peace to Lasi’s mind.

Kata kunci Novel,Bekisar Merah dan Belantik, Pola Struktur, structure pattern, opposition, relations, and harmony.
Program Studi S2 Sastra UGM
No Inventaris c.1 (1409-H-2006)
Deskripsi xvii, 213 p., bibl., ills., 30 cm
Bahasa Indonesia
Jenis Tesis
Penerbit [Yogyakarta] : Universitas Gadjah Mada, 2006
Lokasi Perpustakaan Pusat UGM
File Tulisan Lengkap dapat Dibaca di Ruang Tesis/Disertasi
  • Anda dapat mengecek ketersediaan versi cetak dari penelitian ini melalui petugas kami dengan mencatat nomor inventaris di atas (apabila ada)
  • Ketentuan Layanan:
    1. Pemustaka diperkenankan mengkopi cover, abstrak, daftar isi, bab pendahuluan, bab penutup/ kesimpulan, daftar pusatak
    2. Tidak diperbolehkan mengkopi Bab Tinjauan Pustaka, Bab Pembahasan dan Lampiran (data perusahaan/ lembaga tempat penelitian)
    3. Mengisi surat pernyataan, menyertakakan FC kartu identitas yang berlaku

<< kembali