T Adi p

Pengaruh susunan lamina kayu keruing dan galar bambu petung terhadap kuat lentur balok laminasi

Penulis

Adinata, Surya

Pembimbing: Ir. H. Morisco, Ph.D


Bamboo can be used together with wood by the technology of adhesion for making glue-laminated beams. In the form of laminated beams, however the optimum shears strength happen in a neutral line. In horizontal glue-laminated beams optimum shears strength happen in the lines of adhesive, surroundings the neutral lines. If the adhesive layers between the lamina are not strong enough, the shear failure is signed with the adhesive layers separation. In adhesion, this also can happen in the lamina itself. For the solution, the lamina that is located in a big shear area, as composed laminated vertically to reduce shear failure that happen in glue-laminated beam, so the increasing of strength and stiffness of glue-laminated beams can be attained. In this research, the used materials were the keruing wood (Dipterocarpaceae) and the bamboo petung (Dendrocamalus asper). Preliminary test was done knowing the physical behavior and mechanical behavior, included the materials glue strength to comply with ISO 3129-1975 by this materials mechanic behavior test have gotten the master to inquiry after glue-laminated beams dimension. Dimension of Glue-laminated beams with long: 200 cm, width: 6 cm and high 12 cm. There were five variations of vertical keruing wood glue-laminated beams and horizontal bamboo petung, that each of variation has made of three samples for lamination percentage that are mentioned as the ratio of keruing wood lamination for glue-laminated beam (RLKB) some of them are RLKB-0, RLKB-25, RLKB-50, RLKB-75 and RLKB-100. Between of lamination layers adhesive with urea formaldehyde thermoset adhesive (UA-104). Static lateral loading was given regularly until the glue-laminated beam collapse. Research results sho wed that the keruing wood has compression parallel to grain (43.65 MPa), compression perpendicular to grain (19.64 MPa), tension parallel to grain (143.27 MPa), shear parallel to grain (9.548 MPa), modulus of rupture (97.814 MPa) and modulus of elasticity (10,874.430 MPa). Bamboo petung has compression parallel to grain (51.47 MPa), compression perpendicular to grain (51.06 MPa), tension parallel to grain (402.175 MPa), shear parallel to grain (7.62 MPa), modulus of rupture (128.80 MPa) and modulus of elasticity (13,746.33 MPa). The optimum adhesive resistance was reached at glue spread 50#/MDGL in pure keruing wood (10.004 MPa), pure bamboo petung (8.951 MPa) and keruing wood-bamboo petung (12.81 MPa). The optimum of glue-laminated beam strength was reached at RLKB-75 with bending strength average 81.510 MPa. Increasing average of bending strength at glue-laminated beams of RLKB- 25, RLKB-50 and RLKB-75 were 7.05%. The bending strength reduction average of glue-laminated beam RLKB-100 was 34.54%. The shear strength average of gluelaminated beam RLKB-75 (2.315 MPa). Increasing average of shear strength at gluelaminated beams of RLKB-25, RLKB-50 and RLKB-75 were 6.395%. The shear strength reduction average of glue-laminated beam RLKB-75 was 14.525%.

Bambu dapat digunakan bersama-sama kayu dengan memamfaatkan teknologi perekatan untuk dibuat balok laminasi. Namun pada balok laminasi, tegangan geser maksimum terjadi pada sumbu netral penampang. Pada laminasi horisontal tegangan geser maksimum terjadi pada garis-garis perekatan di sekitar garis netral. Jika lekatan antar lamina kurang sempurna, maka akan terjadi kerusakan geser berupa lepasnya rekatan antar lamina dan juga dapat terjadi kerusakan geser pada lamina itu sendiri. Sebagai solusi, maka lamina yang terletak didaerah yang mempunyai tegangan geser besar disusun secara vertikal agar kerusakan geser pada balok laminasi semakin kecil sehingga mampu meningkatkan kekuatan dan kekakuan balok laminasi tersebut. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kayu keruing (Dipterocarpaceae) dan bambu petung (Dendrocalamus asper). Uji pendahuluan dilakukan untuk mengetahui sifat fisika dan sifat mekanika serta kekuatan rekat bahan menurut ISO 3129-1975. Melalui uji sifat mekanika spesimen bahan diperoleh acuan untuk menentukan dimensi balok laminasi. Dimensi benda uji balok laminasi dengan panjang 200 cm, lebar 6 cm dan tinggi 12 cm. Ada lima variasi susunan lamina vertikal kayu keruing dan horisontal bambu petung yaitu masing-masing variasi dibuat sebanyak tiga sampel untuk persentase laminasi yang dinyatakan sebagai Rasio Laminasi Kayu Keruing terhadap Balok Laminasi (RLKB), diantaranya adalah RLKB-0, RLKB-25, RLKB-50, RLKB-75 dan RLKB-100. Antara lapisan lamina direkatkan dengan perekat thermoset Urea formaldehida (UA-104). Pembebanan lateral statik diberikan secara bertahap sampai balok runtuh. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kayu keruing memiliki kuat tekan sejajar serat (43,65 MPa), kuat tekan tegak lurus serat (19,64 MPa), kuat tarik sejajar serat (143,27 MPa), kuat geser sejajar serat (143,27 MPa), kuat lentur (97,814 MPa) dan modulus elastisitas (10.878,430 MPa). Bambu petung memiliki kuat tekan sejajar serat (51,47 MPa), kuat tekan tegak lurus serat (51,06 MPa), kuat tarik sejajar serat (402,175 MPa), kuat geser sejajar serat (7,62 MPa), kuat lentur (128,80 MPa) dan modulus elastisitas (13.746,33 MPa). Kekuatan rekat optimal tercapai pada jumlah perekat terlabur 50#/MDGL yaitu kayu keruing murni (10,004 Mpa), bambu petung murni (8,951 MPa) dan kayu keruing-bambu petung (12,81 Mpa). Kekuatan lentur optimal rata-rata balok laminasi RLKB-75 (81,51 MPa). Peningkatan kekuatan lentur rata-rata balok laminasi RLKB-25, RLKB-50 dan RLKB-75 sebesar 7,05%. Reduksi kekuatan lentur rata-rata balok laminasi RLKB-100 sebesar 34,54%. Kekuatan geser optimal rata-rata balok laminasi RLKB-75 (2,315 MPa). Peningkatan kekuatan geser rata-rata balok laminasi RLKB-25, RLKB-50 dan RLKB-75 sebesar 6,395%. Reduksi kekuatan geser rata-rata balok laminasi RLKB-100 sebesar 14,525 %.

Kata kunci Konstruksi Bangunan,Balok Laminasi,Gaya Pengempaan Kuat Lentur, lamina horisontal, lamina vertikal, kuat lentur, kuat geser.
Program Studi S2 Teknik Sipil UGM
No Inventaris c.1 (3231-H-2004)
Deskripsi xiv, 113 p., bibl., ills., 30 cm
Bahasa Indonesia
Jenis Tesis
Penerbit [Yogyakarta] : Universitas Gadjah Mada, 2004
Lokasi Perpustakaan Pusat UGM
File Tulisan Lengkap dapat Dibaca di Ruang Tesis/Disertasi
  • Anda dapat mengecek ketersediaan versi cetak dari penelitian ini melalui petugas kami dengan mencatat nomor inventaris di atas (apabila ada)
  • Ketentuan Layanan:
    1. Pemustaka diperkenankan mengkopi cover, abstrak, daftar isi, bab pendahuluan, bab penutup/ kesimpulan, daftar pusatak
    2. Tidak diperbolehkan mengkopi Bab Tinjauan Pustaka, Bab Pembahasan dan Lampiran (data perusahaan/ lembaga tempat penelitian)
    3. Mengisi surat pernyataan, menyertakakan FC kartu identitas yang berlaku

<< kembali