T 899.2-1 Sap m

Mantra Sabuk Mangir dan Jaran Goyang dalam budaya Using di Banyuwangi

Penulis

Saputra, Heru Setya Puji

Pembimbing: Dr. Imran T. Abdullah


ABSTRACT: The purpose of this research is to comprehend the structural convention, orality aspects (formula, composition, performance, transmission, and transformation) and the function of Sabuk Mangir (SM) and Jaran Goyang (JG) magic-formula. In order to reach such a purpose, it is used structural and ethnography approaches by doing field research. Formula theory is reference which is also used as theoretical framework. They can be used to analyse the texts of SM and JG in the context of Using culture in Banyuwangi. The result shows that structural convention of magic-formula of SM and JG are arranged on six aspects which form structure unity that are title, opening, intention, hypnotic persuasion, aim, and closing aspects. Besides hypnotic persuasion aspect (for SM and JG magic-formula variant) and intention aspect (for JG magic-formula variant), the others aspects consist of the same content. The differences of content in intention aspect of JG magic-formula variant correlate with the differences of consequence of the victim that is from mad about the person who spells the magic-formula to be crazy. Meanwhile, the effect of the SM magic-formula is only one that can cause the victim to fall in love with the charmer. The formula of SM and JG magic-formula are in the intervariant and the variant of the texts. In the comparison of intervariant texts, there are syntactical, various repetition, and tautotes repetition formulas. In the variant of the text, in a spread manner, there are syntactical paralellism, syntac tical paralellism which forms framework of schematic composition, paralellism which forms line, synonymous paralellism, tautotes repetition, anaphor repetition, and concatenation formulas. All lines which form the structure of magic-formula are formulaic expressions. The magic-formula of SM and JG was composed in the post-war of Puputan Bayu (1771-1772) in the district of Alas Purwo by shamans who had the high knowledge (ngelmu tinggi). The magic-formulas in ritual procession matek aji (performance) was done orally in particular place by the shaman and the person who hires him at midnight with verbal and non-verbal instrumentations. The transmission was done orally with passive-transmission mechanism (memorizing word for word) because the sacred of magic-formula needs the fixed-text. The magic-formula of SM and JG put address on crossed-form transformation that is from orally to literally like rajah (for SM magic-formula) and from sacred poetry to profane dance art (for JG magic-formula). These magicformula have individual function as instrumentation for philter (the way done to look for a match) and social function as traditional social institution.

INTISARI: Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memahami konvensi struktural, aspek kelisanan (formula, komposisi, performance, transmisi, dan transformasi), dan fungsi mantra Sabuk Mangir (SM) dan Jaran Goyang (JG). Untuk mengkaji tujuan tersebut, dalam penelitian lapangan ini, digunakan pendekatan struktural dan etnografi. Adapun kerangka teoretis yang dimanfaatkan sebagai acuan adalah teori formula. Pendekatan dan kerangka teoretis tersebut digunakan untuk menganalisis teks mantra SM dan JG dalam konteks budaya Using di Banyuwangi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konvensi struktural mantra SM dan JG tersusun atas enam unsur yang membentuk kesatuan struktur, yakni unsur judul, unsur pembuka, unsur niat, unsur sugesti, unsur tujuan, dan unsur penutup. Unsur-unsur tersebut memuat isi yang sama, kecuali pada unsur sugesti (untuk varian mantra SM dan JG) dan unsur tujuan (untuk varian mantra JG). Perbedaan isi pada unsur tujuan dalam varian mantra JG berkorelasi dengan perbedaan akibat yang diderita oleh si korban yang terkena mantra tersebut, yakni dari tergila-gila (kepada si pemantra) hingga gila. Sementara itu, akibat mantra SM bersifat tunggal, yakni timbulnya rasa cinta si korban kepada si pemantra. Formula mantra SM dan JG terdapat pada perbandingan antarvarian teks dan masing-masing varian teks. Dalam perbandingan antarvarian teks terdapat formula sintaktis, formula repetisi yang bervariasi, dan formula repetisi tautotes. Adapun dalam masing-masing varian teks, secara tersebar, terdapat formula paralelisme sintaktis, formula paralelisme sintaktis yang membentuk kerangka komposisi skematik, formula paralelisme yang membentuk larik, formula paralelisme sinonim, formula repetisi tautotes, formula repetisi anafora, dan formula konkatenasi. Semua larik yang membentuk struktur mantra tersebut merupakan ekspresi formulaik. Mantra SM dan JG diciptakan (komposisi) pada masa pascaperang Puputan Bayu (1771- 1772) di wilayah Alas Purwo oleh para dukun yang ber-ngelmu tinggi. Prosesi ritual matek aji (performance) mantra-mantra tersebut dilakukan secara lisan di tempat tertentu oleh dukun bersama dengan pemesan pada waktu tengah malam dengan sarana verbal dan nonverbal. Adapun transmisinya dilakukan secara lisan dengan mekanisme transmisi-pasif (menghafal kata demi kata) sebab sifat sakral mantra menuntut adanya teks-pasti. Mantra SM dan JG mengalami transformasi lintas-bentuk, yakni dari bentuk lisan ke tulisan yang berupa rajah (untuk mantra SM) dan dari bentuk puisi yang sakral ke seni tari yang profan (untuk mantra JG). Mantra-mantra tersebut memiliki fungsi individual sebagai sarana pengasihan (dalam rangka memperlancar mencari jodoh) dan fungsi sosial sebagai pranata sosial tradisional.

Kata kunci Sastra Jawa,Puisi Lisan,Mantra Sabuk Mangir dan Jaran Goyang,Mantra Sabuk Mangir dan Jaran Goyang,Jaran Goyang, structure, formula, transformation, function
Program Studi S2 Sastra UGM
No Inventaris c.1 (1671/H/2003)
Deskripsi xvii, 306 p., bibl., ills., 30 cm
Bahasa Indonesia
Jenis Tesis
Penerbit [Yogyakarta] : Universitas Gadjah Mada, 2003
Lokasi Perpustakaan Pusat UGM
File Tulisan Lengkap dapat Dibaca di Ruang Tesis/Disertasi
  • Anda dapat mengecek ketersediaan versi cetak dari penelitian ini melalui petugas kami dengan mencatat nomor inventaris di atas (apabila ada)
  • Ketentuan Layanan:
    1. Pemustaka diperkenankan mengkopi cover, abstrak, daftar isi, bab pendahuluan, bab penutup/ kesimpulan, daftar pusatak
    2. Tidak diperbolehkan mengkopi Bab Tinjauan Pustaka, Bab Pembahasan dan Lampiran (data perusahaan/ lembaga tempat penelitian)
    3. Mengisi surat pernyataan, menyertakakan FC kartu identitas yang berlaku

<< kembali