Di Balik Protes Petani Brabowan terhadap Privatisasi Irigasi: Antara Subsistensi dan Akumulasi

Penulis

Moh. Sanusi

Pembimbing: Dr. Laksmi A. Savitri, M.Si


Studi ini membahas tentang protes privatisasi irigasi, di Desa Brabowan, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Brabowan merupakan desa kecil dengan mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani, sebagian besarnya petani kecil dengan kepemilikan lahan sempit. Privatisasi irigasi untuk pertanian, yang membatasi akses leluasa masyarakat terhadap sumber air karena saluran irigasi yang dikuasai swasta, menjadi persoalan fundamental tersendiri, tidak hanya karena menyalahi amanat UUD 1945 Pasal 33, dimana bumi, air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai negara, lebih dari itu air irigasi merupakan kebutuhan dasar setiap petani. Ada lebih banyak alasan bagi petani untuk protes atau mengeluhkan irigasi yang dikelola swasta terlebih dengan harga yang menurut mereka memberatkan, daripada bertahan dan menerimanya sebagai kewajaran. Namun ada hal yang lebih penting dan mendasar yang tidak bisa petani kesampingkan, yaitu subsistensi mereka sendiri. Irigasi di Brabowan sudah lebih sepuluh tahun berjalan, memberikan banyak dampak positif, membuat sawah petani yang dulunya tadah hujan dan hanya panen sekali setahun, dengan adanya irigasi swasta itu bisa panen dua kali setahun. Tetapi anehnya, bukannya senang, akhir-akhir ini petani merasa dieksploitasi akibat irigasi terlalu mahal, dan meminta ongkosnya diturunkan. Banyak pertanyaan kemudian muncul, yang paling pokok adalah: Mengapa sebenarnya petani tetap butuh atau tidak bisa menghindari praktik irigasi swasta yang mahal ini betapapun mereka berusaha untuk menegosiasikan harganya, betapapun mereka merasa dieksploitasi? Hasil penelitian menunjukkan bahwa nalar subsisten memaksa mereka bertindak berlawanan dari nalar akumulasi mereka. Setiap petani punya keinginan melakukan akumulasi, betapapun sempit lahan yang mereka miliki, tapi ideologi pengusaha privat yang berorientasi akumulatif, mencegah petani untuk bisa melakukan akumulasi itu. Ketika akumulasi tertahan, satu-satunya cara agar mereka terus melanjutkan hidup adalah dengan menjaga keamanan subsistensi. Tidak mendapatkan semuanya bukan berarti meninggalkan semuanya.

This study discusses the protests of privat irrigation, in Brabowan Village, Gayam District, Bojonegoro Regency, East Java. Brabowan is a small village with a majority of the population working as farmers, most of them small farmers with narrow land ownership. The privatization of irrigation for agriculture, which limits people's free access to water sources because irrigation channels controlled by the private sector, become a fundamental problem in itself, not only because they violate the mandate of the 1945 Constitution Article 33, where the water, land and resources is controlled by state, more than water irrigation is the basic need of every farmer. There are more reasons for peasants to protest or complain about irrigation managed by the private sector rather than stay and accept it as fairness. But there are more important and basic things that peasants cannot put aside, namely their own subsistence. Irrigation at Brabowan has been running for more than ten years, providing many positive impacts, making farmers' fields that were once rain fed and only harvesting once a year, with private irrigation, they can harvest twice a year. But strangely, instead of being happy, peasants felt exploited due to irrigation was too expensive, and asked for the cost to be lowered. Many questions then arose, which the most important were: Why do peasants actually need or cannot avoid these expensive private irrigation practices no matter how they try to negotiate their prices, however much they felt exploited? The results of the study show that subsistence reasoning forces them to act against their accumulated reasoning. Every peasant has the desire to accumulate, however narrow the land they have, but the ideology of an accumulative-oriented private entrepreneur prevents peasants from accumulating. When accumulation was held back, the only way for them to continue to live was to maintain subsistence security. Not getting everything does not mean leaving everything behind.

Kata kunci Akses Sumber Daya, Privatisasi Irigasi, Subsistensi, Akumulasi, Eksploitasi,Resource Access, Water Privatization, Subsistence, Accumulation, Exploitation,
Program Studi MAGISTER ANTROPOLOGI UGM
No Inventaris
Deskripsi
Bahasa Indonesia
Jenis Tesis
Penerbit [Yogyakarta] : Universitas Gadjah Mada, 2019
Lokasi Perpustakaan Pusat UGM
File Tulisan Lengkap dapat Dibaca di Ruang Tesis/Disertasi
  • Anda dapat mengecek ketersediaan versi cetak dari penelitian ini melalui petugas kami dengan mencatat nomor inventaris di atas (apabila ada)
  • Ketentuan Layanan:
    1. Pemustaka diperkenankan mengkopi cover, abstrak, daftar isi, bab pendahuluan, bab penutup/ kesimpulan, daftar pusatak
    2. Tidak diperbolehkan mengkopi Bab Tinjauan Pustaka, Bab Pembahasan dan Lampiran (data perusahaan/ lembaga tempat penelitian)
    3. Mengisi surat pernyataan, menyertakakan FC kartu identitas yang berlaku

<< kembali