Perbedaan Nilai Ambang Dengar Terhadap Letak Kuadran Perforasi Membran Timpani Pada OMSK

Penulis

Adhika Banu Wicakson

Pembimbing: dr. D.A. Edhi Samudra, SpTHT-KL.; dr. Dyah Ayu Kartika D, MSc, SpTHT-KL


Latar Belakang:Otitis media supuratif kronik adalah suatu peradangan padatelinga tengah yang ditandaidengan adanya perforasi membran timpani dengan sekret mukoid atau mukopurulent yang terus-menerus atau hilang timbul selama 8 minggu.Penurunan ambang pendengaran merupakan salah satu komplikasi tersering OMSK. Tingkat penurunan pendengaran salah satunya dipengaruhi oleh letak kuadran perforasi membran timpani. Tujuan:Untuk mengetahui adanya perbedaan nilai ambang dengar terhadap letak kuadran perforasi pada pasien OMSK. Metode:Desain penelitian potong lintang tanpa randomisasi. Penderita OMSK benigna inaktif dari bulan Januari 2016 sampai November 2018 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel pada penelitian ini diuji dengan menggunakan t test yaitu ANOVA dan Tukey. Hasil:Dari 43 pasien OMSK inaktif dengan letak perforasi terbanyak pada kuadran anteroinferior sebanyak 30 sampel (69,8%). Rerata nilai ambang dengar paling besar pada kuadran posteroinferior dengan reratanya 37,7+ 2,0 dB, kuadran anteroinferior dengan rerata sebesar 31,7+ 0,7 dB, kuadran anterosuperior dengan rerata sebesar 30, 7+ 1,4, dan kuadran posterosuperior dengan rerata sebesar 28,9+ 1,5. Terdapat perbedaan yang bermakna pada nilai ambang dengar tuli konduktif antara kuadran yang mengalami perforasi membran timpani (p=0,004). Kuadran posteroinferior dibandingkan dengan kuadran lainnya memiliki perbedaan yang bermakna (p< 0,05). Kesimpulan: Terdapat perbedaan nilai ambang dengar tuli konduktif terhadap letakkuadran perforasi membran timpani pada pasien otitis media supuratif kronis.

Background : Chronic suppurative otitis media (CSOM) is infection of a part or whole of the middle ear cleft, characterized by ear dischargeand a permanent perforation over two to six weeks through a perforation of the tympanic membrane. Hearing loss is the most common complications of CSOM. The degree of hearing loss depend on site of perforation tympanic membrane. Objective: The aim of this study was to assess the degree of hearing loss in relation with the site of tympanic membrane perforation. Method: A cross-sectional prospective study design with 43 patients of CSOM safe who came to ENT-Neurotology Outpatient Department in the periode January 2016 until November 2018. Statistical analysis with ANOVA and multiple comparisons Tukeys honestly significant difference was done. Result : The most common site in anteroinferior (30 sample, 59,8%). Highest hearing threshold was seen at posteroinferior with mean hearing loss 37,7+ 2,0 dB, anteroinferior with mean hearing loss 31,7+ 0,7 dB, anterosuperior with mean hearing loss 30, 7+ 1,4, and posterosuperior with mean hearing loss 28,9+ 1,5. Difference was significant, p value 0,004. Posteroinferior perforation had a higher hearing loss compare with other site. Conclusion: The site of tympanic membrane perforation had a significant effect on the magnitude of conductive hearing loss in CSOM.

Kata kunci Otitis Media Supurasi Kronik, Perforasi, Letak, chronic suppurative otitis media, tympanic membrane perforation, site of perforation
Program Studi ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER UGM
No Inventaris
Deskripsi
Bahasa Indonesia
Jenis Spesialis
Penerbit [Yogyakarta] : Universitas Gadjah Mada, 2019
Lokasi Perpustakaan Pusat UGM
File
  • Anda dapat mengecek ketersediaan versi cetak dari penelitian ini melalui petugas kami dengan mencatat nomor inventaris di atas (apabila ada)
  • Ketentuan Layanan:
    1. Pemustaka diperkenankan mengkopi cover, abstrak, daftar isi, bab pendahuluan, bab penutup/ kesimpulan, daftar pusatak
    2. Tidak diperbolehkan mengkopi Bab Tinjauan Pustaka, Bab Pembahasan dan Lampiran (data perusahaan/ lembaga tempat penelitian)
    3. Mengisi surat pernyataan, menyertakakan FC kartu identitas yang berlaku

<< kembali