IDENTITAS PENGHAYAT KEPERCAYAAN DALAM REPUBLIKA.CO.ID (Analisis Wacana Kritis Berita Pasca Putusan MK Kurun Waktu November 2017)

Penulis

Khairul Arief Rahman

Pembimbing: Dr. Phil. Ana Nadhya Abrar M.E.S


Penelitian ini berangkat dari wacana seputar Penghayat Kepercayaan cenderung kurang mendapat perhatian. Namun entah mengapa ketika diangkat media disisi lain wacana mengenai kepercayaan selalu pada akhirnya menekan mereka. Otomatis penekanan ini membawa sejumlah kepentingan yang dialamatkan kepada Penghayat Kepercayaan, yang pada akhirnya identitas mereka lalu diposisikan melalui wacana terutama pasca putusan MK. Pada titik inilah peneliti lalu berangkat dengan pendekatan subaltern studies yang dipopulerkan oleh Gayatri C. Spivak (1988) mengenai pemosisian identitas Penghayat Kepercayaan yang diharapkan dapat memberi posisi baru untuk menghapus diskriminasi melalui wacana yang menekan mereka, yang kemudian diaktualisasi untuk mendalami dengan rumusan masalah bagaimana wacana pemosisian identitas Penghayat Kepercayaan pasca putusan MK di Republika Online?. Dipilihnya Republika Online dalam berita ini dikarenakan media ini dekat dengan komunitas Muslim, yang secara langsung bersinggungan dengan isu-isu keagamaan maupun kepercayaan. Penelitian ini menggunakan analisis wacana kritis model Teun A. Van Dijk dengan menekankan pendekatan analisis teks, kognisi sosial dan analisis sosial. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa pertama identitas Penghayat Kepercayaan harus dibedakan secara hak politik bernegara dan administratif dikarenakan mereka dipandang berbeda dengan agama. Kedua, pandangan ini juga mensyaratkan adanya strata dalam melihat agama dan kepercayaan. Agama dipandang lebih tinggi ketimbang kepercayaan yang secara defenisi dibedakan. Ketiga, pembedaan posisi identitas Penghayat Kepercayaan juga didasarkan bahwa mereka masih dilihat sebagai ancaman daripada sebuah transformasi sosial. Keempat, bahwa identitas Penghayat Kepercayaan secara politik masih rentan terhadap stigma negatif seperti penyebutan �aliran kekacauan� yang dialamatkan kepada mereka dalam berita. Dari hasil tersebut saran penelitian adalah dibutuhkannya model analisis wacana yang dapat membaca kognisi sosial beserta skemata sosial secara keseluruhan, agar melihat wacana secara lebih mendalam.

This study departs from the discourse around Penghayat Kepercayaan tends to receive less attention. But when this topic up in the media, on the other hand discourses on trust always end up pressing them. This emphasis automatically brings a number of interests addressed to the Believer's Faith, which in the end their identity is then positioned through discourse, especially after the Constitutional Court (MK) ruling. At this point the researcher then departed with a subaltern studies approach popularized by Gayatri C. Spivak (1988) regarding the positioning of Penghayat Kepercayaan identity which is expected to give a new position to eliminate discrimination through discourses that suppress them, then actualized to explore the problem of how discourse the positioning of the Penghayat Kepercayaan identity after the Constitutional Court's decision on Republika Online? The election of Republika Online in this news is because the media is close to the Muslim community, which directly intersects religious issues and beliefs. This study uses Teun A. Van Dijk's model of critical discourse analysis by emphasizing approaches to text analysis, social cognition and social analysis. In this study, it was concluded that the first identity of the Penghayat Kepercayaan must be distinguished by political and administrative rights because they are seen as different from religion. Second, this view also requires the existence of strata in seeing religion and belief. Religion is seen as higher than belief which is definitively distinguished. Third, the differentiation of the position of identity of Believers is also based that they are still seen as a threat rather than a social transformation. Fourth, that the identity of Believer's Faith politically is still vulnerable to negative stigma such as the mention of "the flow of chaos" addressed to them in the news. From these results, the research suggestion is the need for a discourse analysis model that can read social cognition along with the overall social scheme, in order to see discourse in more depth.

Kata kunci wacana pemosisian, identitas, subaltern, Penghayat Kepercayaan, media online.
Program Studi MAGISTER ILMU KOMUNIKASI UGM
No Inventaris
Deskripsi
Bahasa Indonesia
Jenis Tesis
Penerbit [Yogyakarta] : Universitas Gadjah Mada, 2019
Lokasi Perpustakaan Pusat UGM
File
  • Anda dapat mengecek ketersediaan versi cetak dari penelitian ini melalui petugas kami dengan mencatat nomor inventaris di atas (apabila ada)
  • Ketentuan Layanan:
    1. Pemustaka diperkenankan mengkopi cover, abstrak, daftar isi, bab pendahuluan, bab penutup/ kesimpulan, daftar pusatak
    2. Tidak diperbolehkan mengkopi Bab Tinjauan Pustaka, Bab Pembahasan dan Lampiran (data perusahaan/ lembaga tempat penelitian)
    3. Mengisi surat pernyataan, menyertakakan FC kartu identitas yang berlaku

<< kembali