Lanskap Budaya Masyarakat Kerinci di Pusat Wilayah Adat Tanah Sekudung, Dataran Tinggi Jambi

Penulis

Hafiful Hadi S

Pembimbing: Dr. Anggraeni, M.A.


ABSTRACT: This thesis discusses about the factors used for selecting settlement location, and the role of menhirs, in landscape of the central indigenous territory of Tanah Sekudung, Kerinci Valley, Jambi Highland. Tanah Sekudung is located at Northwestern part of Kerinci Valley with three villages as its center, that is Dusun Siulak Panjang, Dusun Siulak Gedang and Dusun Siulak Mukai. Tanah Sekudung is inhibited by Kerinci people who are called as Uhang Sulak. Two questions to be answered in this research, are: (1) why the Northwestern of Kerinci Valley are selected as location of the central Tanah Sekudung Indigenous territory? (2) how is the roles of menhirs in the landscape of the central territory of Tanah Sekudung? The aims of this research that is to explain cognition system, cosmology, mythology and conception related with the selection of locational settlement and the distribution ofmenhirs distribution in the landscape of central territory of Tanah Sekudung. This study utilizes landscape phenomenological approach by Christoper Tilley. This approach emphasizes the individual sensory and subjective experience to understand of monument, place and landscape. Data is collected by participant observation method. Through this method, observer/researcher experience be a part of what one is attempting to describe and to understand. Based on observation during the fieldwork it is known that: dusuns are foci in the landscape of Tanah Sekudung indigenous territory in Northwestern of Kerinci Valley. The dusuns are located between the main river and hills/mountain, on the higher land, and encircled by paddy fields in lowerland. Meanwhile, the menhirs are located in northwestern and southeastern of dusuns, and most of them are located in paddy fields. The distribution of menhirs have mimetic association with the flow of main river and higherlands. Two interpretations of landscape phenomenon in the central of Tanah Sekudung. First, the location of dusuns which is in the middle of Northwestern Valley, between river and hills, and on higherland, was based on magical-religious and social factors. The magical-religious factor present as conciousness of ancestor spirits and supernatural existence in particular places. Consequently, location of the dusuns refered to cosmological concepts and expressed the stairs metaphor. The social factor present as ancestors strategy to use land in the valley maximally. They constructed of tanah basah and tanah kering concepts. Second, the distribution of menhirs transformatively, have two important roles. Menhirs as sacredland markers which related with mithology of ancestors journey in the past and menhir as tanah ajun arah (the clan�âïÿýïÿýs or group�âïÿýïÿýs land), part of groups identities element. Balian or shaman has power to determine of sacredlands as they got vision from ancestor spirits directly.

INTISARI: Tesis ini membahas tentang faktor pemilihan lokasi hunian dan peran menhir di pusat wilayah adat Tanah Sekudung, Lembah Kerinci, Dataran Tinggi Jambi. Tanah Sekudung terletak di bagian Barat Laut Lembah Kerinci dengan pusat pemerintahannya berada pada tiga dusun yaitu Dusun Siulak Panjang, Dusun Siulak Gedang dan Dusun Siulak Mukai. Wilayah ini dihuni oleh masyarakat Kerinci yang menamakan diri sebagai Uhang Sulak. Ada dua pertanyaan yang diajukan dalam penelitian ini, yaitu: (1) mengapa bagian Barat Laut Lembah Kerinci dipilih sebagai lokasi hunian pusat wilayah adat Tanah Sekudung? (2) bagaimana peran menhir dalam lanskap pusat wilayah adat Tanah Sekudung? Untuk menjawab permasalahan ini dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan sistem kognisi, ideologi dan konsepsi terkait dengan pemilihan hunian dan pendirian menhir yang membentuk lanskap di pusat wilayah adat Tanah Sekudung. Kajian ini menggunakan pendekatan fenomenologi lanskap yang dikemukakan oleh Christoper Tilley. Pendekatan ini menekankan pengalaman subjektif individu terhadap objek seperti monumen, tempat dan lanskap. Metode pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi partisipan. Melalui metode ini, pengalaman peneliti terhadap monumen, tempat dan lanskap menjadi bagian dari apa yang hendak dideskripsikan dan dipahami. Berdasarkan pengamatan di lapangan, diketahui bahwa dusun menjadi foci dari lanskap di bagian Barat Laut Lembah Kerinci. Dusun ditempatkan di antara sungai dan perbukitan/gunung serta didirikan di atas lahan yang lebih tinggi dan dikelilingi oleh persawahan yang berada pada lahan yang lebih rendah. Sementara itu, menhir-menhir ditempatkan di sisi dusun terutama di sebelah Barat Laut dan Tenggara, dan sebagian besar ditempatkan di area lahan persawahan. Distribusi menhir ini searah dengan arah aliran sungai utama yang membelah lembah yaitu Sungai Batangmerao. Sama seperti dusun, menhir juga didirikan di atas lahan yang lebih tinggi. Interpretasi terhadap interrelasi antara dusun, menhir dan lanskap adalah sebagai berikut. Pertama, pemilihan lokasi hunian (penempatan) dusun yang berada di tengah lembah, diapit oleh sungai dan bukit serta didirikan di atas lahan yang lebih tinggi disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor magis-religius dan sosial. Faktor magis-religius muncul sebagai hasil kesadaran akan adanya roh-roh leluhur dan makhluk-makhluk supernatural yang menghuni tempat tertentu. Oleh sebab itu, dusun ditempatkan dengan mengacu pada aspek kosmologis tertentu dan mengekspresikan metafora tangga. Faktor sosial muncul sebagai strategi para leluhur untuk memanfaatkan lahan di bagian lembah secara maksimal. Mereka menciptakan konsep yang disebut sebagai tanah basah dan tanah kering. Kedua, distribusi menhir secara transformatif memiliki dua peran penting, yaitu sebagai penanda lahan-lahan sakral yang terkait dengan jejak perjalanan leluhur di masa lalu sekaligus sebagai penanda tanah ajun arah yang merupakan bagian pembentuk identitas kalbu. Dalam hal ini, balian (shaman) memiliki kuasa dalam menentukan tempat-tempat sakral berdasarkan petunjuk roh-roh leluhur dari dunia lain.

Kata kunci Fenomenologi lanskap, menhir, dusun, Kerinci/Landscape phenomenology, menhir, dusun, Kerinci
Program Studi MAGISTER ARKEOLOGI UGM
No Inventaris
Deskripsi
Bahasa Indonesia
Jenis Tesis
Penerbit [Yogyakarta] : Universitas Gadjah Mada, 2018
Lokasi Perpustakaan Pusat UGM
File
  • Anda dapat mengecek ketersediaan versi cetak dari penelitian ini melalui petugas kami dengan mencatat nomor inventaris di atas (apabila ada)
  • Ketentuan Layanan:
    1. Pemustaka diperkenankan mengkopi cover, abstrak, daftar isi, bab pendahuluan, bab penutup/ kesimpulan, daftar pusatak
    2. Tidak diperbolehkan mengkopi Bab Tinjauan Pustaka, Bab Pembahasan dan Lampiran (data perusahaan/ lembaga tempat penelitian)
    3. Mengisi surat pernyataan, menyertakakan FC kartu identitas yang berlaku

<< kembali