SINRILIK TAMBARA JAMBUNNA BUNGAYA: SUNTINGAN TEKS, TERJEMAHAN, DAN RESEPSI SASTRA

Penulis

Ridwan

Pembimbing: Prof. Dr. Sangidu, M.Hum.


Sinrilik pada jaman dahulu merupakan kesenian yang sakral dan disukai oleh hampir semua lapisan masyarakat yang ada di Sulawesi Selatan. Sinrilik sebagai sastra lisan mengandung makna yang dalam dan sarat makna pada masa lampau jarang dan susah untuk ditemui saat ini. Beberapa penyebabnya adalah kurangnya pengetahuan, minat, dan kesadaran pribadi untuk melestarikan kebudayaan lokal tersebut. Isi dari naskah Sinrilik Tambara Jambunna Bungaya bercerita tentang perjuangan dan perlawanan Karaeng Galesong dan sekutunya terhadap Belanda yang dianggap merugikan rakyat Sulawesi Selatan. Penelitian filologi bertujuan untuk mengungkap isi kandungan dan menyajikan suntingan teks naskah Sinrilik Tambara Jambunna Bungaya yang masih menggunakan bahasa daerah Makassar dan aksara lontara. Peneliti kemudian menerjemahkan dan menganalisis naskah tersebut menggunakan teori resepsi sastra untuk memformulasikan konsep siri berdasarkan reportoire pembaca. Setelah proses transliterasi dilanjutkan dengan proses terjemahan, peneliti menemukan beberapa kata yang tidak bisa diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia karena tidak ditemukan padanan katanya. Kata-kata tersebut kemudian dijelaskan pada catatan terjemahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siri merupakan hal yang sangat sakral, bagi orang Makassar (malu) siri merupakan hal yang tidak bisa dianggap sepele. Untuk menegakkan siri apapun akan dilakukan termasuk berkorban nyawa untuk menjaganya. Siri ini juga yang menjadi latar belakang perjuangan Karaeng Galesong beserta sekutu melakukan perjuangan dan pemberontakan karena Karaeng Galesong merasa kehormatan dan kebesaran Kerajaan Gowa dan sekutunya dicemari oleh campur tangan Belanda.

Sinrilik was a sacred art which was admired by almost all of people in South Sulawesi. Sinrilik as an oral literature contains full of meaning and its meaning was very deep. Sinrilik is very rare and difficult to find in this era. The causes are the lack of knowledge, interest, and personal awareness in preserving the local culture. The content of Sinrilik Tambara Jambunna Bungaya script tells about the story of the struggle and resistance of Karaeng Galesong and his allies to the Dutch that is considered as disadvantages allies for people of South Sulawesi. This philology research aims to reveal the content of Sinrilik Tambara Jambunna Bungaya which uses traditional language of Makassar and lontara script. Then, the researcher translated and analyzed the script using literature reception theory in formulating siri concept base on repertoire of reader. After the transliteration process continued with translation process, the researcher found that some words cannot be translated into Indonesian because the words have not equivalent words. For the reason that words would be explained in note translation. The result of the research shows that siri is very scared thing. Makassar people assumed that siri cannot be considered as the trivial thing. To enforce and maintain siri Makassar people would be do anything like sacrifice their life. Siri is also as the struggle background of Karaeng Galesong and his allies in doing struggle and rebellion because Karaeng Galesong felt that the honor and greatness of Gowa Kingdom and his allies was tainted by the Dutch.

Kata kunci Sinrilik Tambara Jambunna Bungaya, filologi, resepsi sastra dan Siri
Program Studi MAGISTER SASTRA UGM
No Inventaris
Deskripsi
Bahasa Indonesia
Jenis Tesis
Penerbit [Yogyakarta] : Universitas Gadjah Mada, 2018
Lokasi Perpustakaan Pusat UGM
File
  • Anda dapat mengecek ketersediaan versi cetak dari penelitian ini melalui petugas kami dengan mencatat nomor inventaris di atas (apabila ada)
  • Ketentuan Layanan:
    1. Pemustaka diperkenankan mengkopi cover, abstrak, daftar isi, bab pendahuluan, bab penutup/ kesimpulan, daftar pusatak
    2. Tidak diperbolehkan mengkopi Bab Tinjauan Pustaka, Bab Pembahasan dan Lampiran (data perusahaan/ lembaga tempat penelitian)
    3. Mengisi surat pernyataan, menyertakakan FC kartu identitas yang berlaku

<< kembali