KAJIAN KINERJA INFRASTRUKTUR CONTINOUSLY OPERATING REFERENCE STATIONS (CORS) KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG/BADAN PERTANAHAN NASIONAL (ATR/BPN) UNTUK PENGUKURAN BIDANG TANAH

Penulis

Achmad Radama R

Pembimbing: Ir. Nurrohmat Widjajanti, M.T., Ph.D; Dr. Ir. T. Aris Sunantyo, M.Sc


Jaringan Referensi Satelit Pertanahan/Continously Operating Reference Station (JRSP/CORS) merupakan teknologi penentuan posisi berbasis satelit yang mulai diimplementasikan oleh Kementerian ATR/BPN sejak tahun 2009 dengan tujuan untuk mempercepat proses administrasi pertanahan. Selama kurun waktu lima tahun, ditemukan berbagai kendala dari segi infrastruktur, jaringan komunikasi dan sumber daya manusia (SDM). Sampai dengan tahun 2014 infrastruktur JRSP/CORS belum diketahui kinerjanya, sehingga kendala yang dihadapi belum teridentifikasi dan terukur serta ditentukan solusinya. Menindaklanjuti persoalan tersebut, maka ATR/BPN mengadakan kajian kinerja serta optimalisasi JRSP/CORS pada tahun 2014. Penelitian ini merupakan bagian dari kegiatan kajian JRSP/CORS dengan studi kasus pada Kantor pertanahan (Kantah) Bantul, Sleman, dan Kulon Progo. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengkaji kinerja infrastruktur JRSP/CORS dalam aplikasinya untuk pengukuran bidang tanah dengan menggunakan metode RTK-NTRIP. Akuisisi data dilakukan dengan variasi terhadap jarak baseline pengamatan, pemilihan mountpoint dan internet service provider (ISP), serta merek alat yang digunakan. Kinerja RTK-NTRIP dinilai dari segi tingkat kesuksesan inisialisasi, ketelitian horizontal (HRMS), dan lama waktu inisialisasinya. Hasil survei RTK-NTRIP juga dibandingkan dengan metode radial static post-processing dan pita ukur. Selain itu, dilakukan visitasi ke Kantah Bantul, Sleman dan Kulon Progo untuk menilai kualifikasi dan spesifikasi SDM, ketersediaan alat ukur, infrastruktur ruang server dan komunikasi data, serta pemanfaatan JRSP/CORS untuk mendukung pekerjaan survei dan pemetaan bidang tanah pada lingkup Kantah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode RTK-NTRIP sangat layak digunakan untuk pengukuran bidang tanah. Pengukuran dalam kondisi fixed menghasilkan selisih ukuran terhadap metode pita ukur dengan kisaran antara 0,004 m s.d 0,066 m. Perbandingan dengan metode static post-processing menunjukkan bahwa hasil ukuran tidak berbeda signifikan dengan nilai pergeseran horizontal 0,019 m s.d 0,049 m. Kinerja survei RTK-NTRIP pada daerah obstruksi rendah dan tinggi dengan base JRSP/CORS menunjukkan bahwa tingkat kesuksesan inisialisasi, HRMS, dan lama waktu inisialisasi mountpoint single-base (NEAREST_BPN, Bantul, Sleman, dan Kulon Progo) lebih baik dibandingkan dengan mountpoint NRTK (MAX_BPN) pada jarak baseline pendek (5 km s.d 10 km). Berdasarkan pengamatan pada jarak baseline panjang (20 km s.d 30 km) mountpoint NRTK memiliki kinerja yang lebih baik. Berdasarkan pengujian dari tiga rover (Leica, Javad, dan Trimble), rover Leica adalah yang paling baik kinerjanya. Sementara dari pengujian tiga ISP yang berbeda, masing-masing ISP memiliki keunggulan masing-masing relatif terhadap ketersediaan base transceiver station (BTS) di lokasi pengamatannya. Hasil visitasi di Kantah Bantul, Sleman, dan Kulon Progo ditemukan hanya sekitar 2 s.d 3 petugas ukur saja yang mahir mengoperasikan rover. Infrastruktur JRSP/CORS di Kantah sudah lengkap dari segi komponennya, namun pemeliharaan masih belum rutin dilakukan. Sementara pemanfaatan JRSP/CORS untuk pengukuran rutin bidang tanah belum dimanfaatkan secara optimal.

The Cadastral Satellite Reference Network/Continously Operating Reference Station (JRSP/CORS) is a satellite-based positioning technology that has been implemented by the Ministry of Agraria and Spatial Planning/National land Agency (ATR/BPN) since 2009 in order to speed up land administration process in Indonesia. For about five years, various problem were found in terms of infrastructure, communication networks and human resources (HR). Meanwhile, the performance of the JRSP/CORS infrastructure has not known. Following up that condition, ATR/BPN conducted assessment of the performance and optimization JRSP/CORS infrastructure in 2014. This research is part of these assessment activity which case study in Land Agency (Kantah) Bantul, Sleman, and Kulon Progo This study was conducted to assess the performance of JRSP/CORS in its application for parcel boundary measurement using RTK-NTRIP method. Data acquisition is collected by various baseline distance, selection of mountpoint and internet service provider (ISP), and also rover brand. RTK-NTRIP performance is assessed in terms of initialization success rate, horizontal accuracy (HRMS), and length of initialization time. The RTK-NTRIP survey results were also compared with the radial static post-processing method and the measuring tape. In addition, several visits are made to Kantah Bantul, Sleman and Kulon Progo to assess the qualifications and specifications of human resources, measuring tools, server infrastructure and data communications, and utilization of JRSP/CORS to support land administration in Kantah. The result of this research is RTK-NTRIP method which is very suitable for parcel measurement. In fixed ambiguity resolution, the difference to conventional survey method is in the range of 0.004 m to 0.066 m. While the comparison with static post processing method, indicate that measurement results did not differ significantly with a horizontal displacement value about 0.019 m to 0.049 m. RTK-NTRIP survey performance in low and high obstruction areas with base JRSP/CORS indicates that the success level of initialization, HRMS, and length of initialization time of single-base mountpoint (NEAREST_BPN, Bantul, Sleman, dan Kulon Progo) is better than with mountpoint NRTK (MAX_BPN) at short baseline range (5 km to 10 km). While at long baseline distance (20 km to 30 km), NRTK mountpoint has better performance. Based on the three rovers tested (Leica, Javad, and Trimble), Leica rover have the better performance. While testing the three different ISP, each ISP had its own advantages depends on measurement location. The results of visits in Kantah Bantul, Sleman, and Kulon Progo found that many Surveyors who are not capable to operate the GNSS rover, only 2 to 3 people are proficient. The JRSP/CORS infrastructure in Kantah is quite comprehensive in terms of its components, it's just that the maintenance still not routine. While the utilization of JRSP/CORS for parcel measurement not yet to be utilized optimally.

Kata kunci RTK-NTRIP, JRSP/CORS, mountpoint, ATR/BPN
Program Studi S2 Teknik Geomatika UGM
No Inventaris
Deskripsi
Bahasa Indonesia
Jenis Tesis
Penerbit [Yogyakarta] : Universitas Gadjah Mada, 2017
Lokasi Perpustakaan Pusat UGM
File Tulisan Lengkap dapat Dibaca di Ruang Tesis/Disertasi
  • Anda dapat mengecek ketersediaan versi cetak dari penelitian ini melalui petugas kami dengan mencatat nomor inventaris di atas (apabila ada)
  • Ketentuan Layanan:
    1. Pemustaka diperkenankan mengkopi cover, abstrak, daftar isi, bab pendahuluan, bab penutup/ kesimpulan, daftar pusatak
    2. Tidak diperbolehkan mengkopi Bab Tinjauan Pustaka, Bab Pembahasan dan Lampiran (data perusahaan/ lembaga tempat penelitian)
    3. Mengisi surat pernyataan, menyertakakan FC kartu identitas yang berlaku

<< kembali