ISTILAH PENYAKIT DAN PENGOBATAN TRADISIONAL ORANG JAWA: SEBUAH KAJIAN LINGUISTIK ANTROPOLOGIS

Penulis

Ari Wulandari

Pembimbing: Prof. Dr. Marsono, S.U. ; Dr. Suhandano, M.A.


ABSTRACT: The disease is an important topic in the Javanese life. This study aimed to describe the disease classification and traditional Javanese treatment to find out the Javanese world view to disease. This study uses an anthropological linguistics approach to qualitative research design or contextual research. The term of diseases discuss is highly dependent on disease lexicon in the Javanese language. The data collection refers to the technique, note, participation observation, and interviews. Research shows that the lexicon of a disease in the Javanese language provides information on disease identification, disease classification, and traditional medicine that contains the Javanese world view to the disease. The Javanese language has at least 463 disease lexicons that have been tested in accordance by theory and can be defined as a term of disease. Identification of disease lexicon has done by semantic relationships between terms that allow cover lelara disease and the terms that covered, which can be described as X is one type of Y. The disease classification is based on Javanese disease lexicon in line with the Berlins Theory. The classification consist level 0 is Unique Beginner category, level 1 is Life Form category, level 2 is Generic category, level 3 is Specific category, and level 4 is Varietal category, plus Covert Category. The Unique Beginner in disease classification is lelara disease. Lelara disease word is not a single word, but the repetition of the word lara sick. There is a possibility, at first Javanese people did not recognize lelara disease and only knew lara sick, so that the Javanese people do not recognize the Life Form category in the classification level. The diseases classification can also be performed based on the cause, namely (1) lelara lumrah naturalistic disease, (2) lelara ora lumrah personalistic disease, (3) lelara tua oldness disease, (4) lelara sawan convulsions and (5) lelara rena-rena/mawarna epidemic. The Javanese traditional medicine is based on the disease classification according to the cause, that is by giving tamba medicine, jamu the jamu/herbs, and ritual. The Javanese traditional medicine is also include other things, such as a traditional Javanese treatment history, symptoms, diagnosis, traditional healers, and its modernization. The results of this study concludes that the Javanese perspective to the disease consist of how the identification, classification, and disease management comes from their thinking and character which contain the local wisdom of Javanese values. The Local wisdom is pitutur luhur precious advice for goodness that contains philosophical values to the disease and disease prevention.

INTISARI: Penyakit merupakan topik yang penting dalam kehidupan orang Jawa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan klasifikasi penyakit dan pengobatan tradisional Jawa untuk mengetahui cara pandang orang Jawa terhadap penyakit. Penelitian ini menggunakan pendekatan linguistik antropologis dengan rancangan penelitian kualitatif atau penelitian kontekstual. Istilah penyakit yang dibahas sangat tergantung konteks leksikon penyakit dalam bahasa Jawa. Pengumpulan data memakai teknik simak, catat, partisipasi observasi, dan wawancara. Penelitian membuktikan bahwa leksikon penyakit dalam bahasa Jawa memberikan informasi tentang identifikasi penyakit, klasifikasi penyakit, dan pengobatan tradisional yang memuat cara pandang orang Jawa terhadap penyakit. Bahasa Jawa memiliki setidaknya 463 leksikon penyakit yang telah diuji sesuai dengan teori dan dapat ditentukan sebagai istilah penyakit. Identifikasi leksikon penyakit dilakukan melalui hubungan semantik yang memungkinkan antara istilah pencakup lelara penyakit dan istilah-istilah tercakupnya, yang dapat digambarkan sebagai X adalah salah satu jenis Y. Klasifikasi penyakit berdasarkan leksikon penyakit dalam bahasa Jawa sejalan dengan teori Berlin, tetapi tidak terdapat kategori Life Form. Klasifikasi tersebut terdiri dari level 0 berupa kategori Unique Beginner, level 1 yaitu kategori Generic, level 2 adalah kategori Specific, dan level 3 disebut kategori Varietal, ditambah Covert Category. Unique Beginner dalam klasifikasi penyakit adalah lelara penyakit. Kata lelara penyakit bukan kata tunggal, tetapi perulangan dari kata lara sakit. Ada kemungkinan, pada awalnya orang Jawa tidak mengenal lelara penyakit dan hanya mengenal lara sakit, sehingga dalam tataran klasifikasi, orang Jawa tidak mengenal kategori Life Form. Klasifikasi penyakit juga dapat dilakukan berdasarkan penyebabnya, yaitu (1) lelara lumrah penyakit wajar, (2) lelara ora lumrah penyakit tidak wajar, (3) lelara tua penyakit usia tua, (4) lelara sawan penyakit sawan, dan (5) lelara rena-rena/mawarna pagebluk. Pengobatan tradisional Jawa berdasarkan klasifikasi penyakit menurut penyebabnya, meliputi tamba pengobatan, jamu jamu, dan ritual ritual. Pengobatan tradisional Jawa juga meliputi hal-hal lain, seperti sejarah pengobatan tradisional Jawa, gejala penyakit, diagnosis penyakit, ahli pengobatan tradisional, dan modernisasinya. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa cara pandang orang Jawa terhadap penyakit, baik dari cara identifikasi, klasifikasi, hingga penanganan penyakit berasal dari pemikiran dan karakternya yang memuat nilai-nilai kearifan lokal Jawa. Kearifan lokal tersebut berbentuk pitutur luhur nasihat mulia untuk kebaikan yang mengandung nilai-nilai filosofis terhadap penyakit dan pencegahan penyakit.

Kata kunci cara pandang, klasifikasi, linguistik antropologis, pengobatan tradisional, penyakit ,worldview, classification, anthropological linguistics, traditional medicine, disease
Program Studi S3 ILMU-ILMU HUMANIORA UGM
No Inventaris
Deskripsi
Bahasa Indonesia
Jenis Disertasi
Penerbit [Yogyakarta] : Universitas Gadjah Mada, 2017
Lokasi Perpustakaan Pusat UGM
File Tulisan Lengkap dapat Dibaca di Ruang Tesis/Disertasi
  • Anda dapat mengecek ketersediaan versi cetak dari penelitian ini melalui petugas kami dengan mencatat nomor inventaris di atas (apabila ada)
  • Ketentuan Layanan:
    1. Pemustaka diperkenankan mengkopi cover, abstrak, daftar isi, bab pendahuluan, bab penutup/ kesimpulan, daftar pusatak
    2. Tidak diperbolehkan mengkopi Bab Tinjauan Pustaka, Bab Pembahasan dan Lampiran (data perusahaan/ lembaga tempat penelitian)
    3. Mengisi surat pernyataan, menyertakakan FC kartu identitas yang berlaku

<< kembali