Evaluasi Pinjaman Mikro Terhadap KemiskinanRumah Tangga Di Indonesia Selama Tahun 2000 - 2007

Penulis

Suratini

Pembimbing: Prof. Dr. Samsubar Saleh., M.Soc., Sc.; Dr. Soeratno, M.Ec.


ABSTRACT: This study aimed to evaluate microloans on the household poverty in Indonesia. The data in the study were those obtained from Indonesia Family Life Survey (IFLS) in 2000 and 2007. The data obtained to analyze the objective to attain were the household data that were previously screened, namely those in 2000 and also in 2007 and those in 2007 and also in 2000. Then the data were grouped into 4 types of households. The household of type 1 was one receiving loans in 2000 and 2007; the household of type 2 was one receiving loans in 2000 but not receiving loans in 2007; the household of type 3 was one not receiving loans in 2000 but receiving loans in 2007; and the household of type 4 was one not receiving loans in 2000 and 2007. The purpose of grouping the data into 4 types of households was to obtain results which were the true impacts of microloans on the family poverty. In the study, the analysis was the ordinary least squares regression analysis. To test the significance of the first and second hypotheses, the basic model to construct used the time lag variable. The reason for the construction of the time lag model was the assumption that loans did not instantly and directly affect the family poverty but the impact took time or there was a lag. Based on the ordinary least square (OLS) analysis, it was proved that loans were used only for the food consumption improvement. The insignificance of microloans on incomes, assets, and PCE was assumed to be related to the use of loans of which only 23 percent was used for business purposes. Meanwhile, other loans were used more for daily needs and other household needs such as social activities like traditional ceremonies, weddings, house renovation, and other needs. This was proved by a significant effect of social activities on incomes, assets, consumption, and PCE. The probit model was used to test the third hypothesis because the poverty level in the study was in the form of a dummy variable. The dummy variable of the poverty level was constructed from the quantitative value as a measure of the poverty level. The value 1 was the poor family dummy and the dummy 0 was for the family which was not poor. The definition of poverty in the study was that the family was in the lowest 40% of the per capita expenditure. Based on the results of the estimation using the probit model, it could be concluded that loans in 2000 did not have a significant effect on the probability of the decrease of the household poverty level in 2007. The insignificance of the effect of microloans on the probability of the household poverty level in 2007 was due to the fact that the microloans program alone was not capable of alleviating poverty because problems of asymmetric information and moral hazard kept becoming negative issues in the development of microloans. The style of people who received multiple loans could be a boomerang because they misused the loans. Then, the third hypothesis was tested by the double difference (DD) fixed effects method to estimate the magnitude of the impact of microloans in 2000 on the changes of the household conditions in 2007 comprising incomes, assets, total consumption, food consumption, and non-food consumption. The use of this method was due to the fact that in the loans process in 2000 there was an unobserved heterogeneity factor time-invariant in nature which was impossible to capture in the independent variables. Of the analysis double difference fixed effect proved thet micro loan is not significant to income but in nominal it is. This is because the impact is relatively small so it does not appear on the regression. Although the impact is relatively small but at least microloans can prove that it is able and can help to reduce poverty through additional income, assets value, total consumption, food consumption, non food consumption, and per capita expenditure. The findings of the study suggest that the government should improve the regulation for and control over the microloans providing institutions, both banks and non-banks, in order to effectively distribute funds to creditors-to-be. In addition, there should be sustainable control and guidance from creditors for debtors to improve the efficiency of the use of microloans.

INTISARI: Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pinjaman mikro terhadap kemiskinan rumah tangga di Indonesia. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang diambil dari Indonesia Family Life Survey (IFLS) tahun 2000 dan tahun 2007. Langkah pengambilan data yang digunakan untuk menganalisis tujuan yang dicapai menggunakan data rumah tangga yang telah dibersihkan lebih dahulu yaitu data rumah tangga yang ada tahun 2000 dan ada juga di tahun 2007 serta data yang ada di tahun 2007 dan data yang ada di tahun 2000. Selanjutnya data dikelompokkan menjadi 4 tipe rumah tangga. Rumah tangga tipe 1 adalah rumah tangga yang menerima pinjaman tahun 2000 dan 2007; tipe 2 adalah rumah tangga yang menerima pinjaman tahun 2000 dan tidak menerima pinjaman tahun 2007; rumah tangga tipe 3 adalah rumah tangga tidak menerima pinjaman tahun 2000 tetapi menerima pinjaman tahun 2007; sedangkan rumah tangga tipe 4 adalah rumah tangga yang tidak menerima pinjaman tahun 2000 dan 2007. Maksud dari pengelompokan data menjadi 4 tipe rumah tangga tersebut agar diperoleh hasil yang benar-benar merupakan dampak pinjaman mikro terhadap kemiskinan rumah tangga. Dalam penelitian ini alat analisis yang digunakan adalah analisis regresi metode kuadrat terkecil (ordinary least squares). Untuk menguji signifikansi hipotesis satu, maka model dasar yang dibangun menggunakan variable kelambanan. Alasan pembentukan model kelambanan (time lag) karena asumsinya dampak sebuah pinjaman tidak secara instan dapat langsung mempengaruhi kemiskinan rumah tangga tetapi memerlukan waktu atau kelambanan (lag). Berdasarkan hasil analisis Ordinary Least Square (OLS) terbukti bahwa pinjaman hanya digunakan untuk peningkatan konsumsi makanan. Tidak signifikannya pinjaman mikro terhadap pendapatan, aset, dan PCE (Per Capita Expenditure) diduga berhubungan dengan pemanfaatan pinjaman yang hanya 23 persen digunakan untuk keperluan usaha. Model Probit digunakan untuk menguji hipotesis dua karena tingkat kemiskinan dalam penelitian ini dinyatakan dalam bentuk dummy variabel. Variabel Dummy tingkat kemiskinan dibuat dari nilai kuantitatif yang menjadi ukuran tingkat kemiskinan. Nilai 1 adalah dummy rumah tangga miskin dan dummy 0 adalah rumah tangga tidak miskin. Definisi miskin yang digunakan dalam penelitian adalah rumah tangga yang berada dalam kelompok 40 persen terbawah dari PCE. Berdasarkan hasil estimasi model Probit dapat disimpulkan bahwa pinjaman tahun 2000 tidak berpengaruh signifikan terhadap probabilitas penurunan tingkat kemiskinan rumah tangga tahun 2007. Tidak signifikannya pengaruh pinjaman mikro terhadap probabilitas tingkat kemiskinan rumah tangga tahun 2007 dikarenakan pinjaman mikro saja dirasa tidak mampu untuk mengatasi kemiskinan karena masalah asymemetric information dan moral hazard tetap menjadi isu negatif pengembangan pinjaman mikro. Pola masyarakat yang melakukan pinjaman berulang (multiple loan) dapat menjadi bomerang karena salah memanfaatkan pinjaman tersebut. Selanjutnya untuk menguji hipotesis ke tiga yaitu menggunakan metode double difference (DD) fixed effects untuk mengestimasi besarnya dampak pinjaman mikro tahun 2000 terhadap kondisi ekonomi rumah tangga tahun 2007. Penggunaan metode ini dikarenakan dalam proses pinjaman tahun 2000 terdapat factor unobserved heterogeneity yang bersifat time-invariant yang tidak mungkin tertangkap dalam variable independen. Dari analisis double different fixed effects terbukti bahwa pinjaman mikro secara riil tidak signifikan terhadap pendapatan namun secara nominal signifikan. Hal ini dikarenakan dampak yang ditimbulkan relatif kecil sehingga tidak tampak saat regresi. Meskipun dampaknya relatif kecil tetapi paling tidak pinjaman mikro dapat membuktikan bahwa dirinya mampu dan dapat membantu mengurangi kemiskinan melalui peningkatan pendapatan, nilai aset, total konsumsi, konsumsi makanan, konsumsi non makanan, dan pengeluaran per kapita. Penemuan dari penelitan ini menyarankan kepada pemerintah untuk lebih meningkatkan regulasi dan pengawasan terhadap lembaga pemberi dana mikro baik bank maupun non bank agar dapat secara efektif menyalurkan dana kepada calon kreditur. Selain itu, perlunya pengawasan dan pendampingan yang berkelanjutan (sustainable) dari pihak kreditur terhadap debitur untuk meningkatkan efisiensi dalam penggunaan kredit mikro.

Kata kunci Evaluasi Pinjaman Mikro Terhadap KemiskinanRumah Tangga Di Indonesia Selama Tahun 2000 - 2007
Program Studi S3 ILMU EKONOMI UGM
No Inventaris
Deskripsi
Bahasa Indonesia
Jenis Disertasi
Penerbit [Yogyakarta] : Universitas Gadjah Mada, 2016
Lokasi Perpustakaan Pusat UGM
File Tulisan Lengkap dapat Dibaca di Ruang Tesis/Disertasi
  • Anda dapat mengecek ketersediaan versi cetak dari penelitian ini melalui petugas kami dengan mencatat nomor inventaris di atas (apabila ada)
  • Ketentuan Layanan:
    1. Pemustaka diperkenankan mengkopi cover, abstrak, daftar isi, bab pendahuluan, bab penutup/ kesimpulan, daftar pusatak
    2. Tidak diperbolehkan mengkopi Bab Tinjauan Pustaka, Bab Pembahasan dan Lampiran (data perusahaan/ lembaga tempat penelitian)
    3. Mengisi surat pernyataan, menyertakakan FC kartu identitas yang berlaku

<< kembali