MEDIA DAN KULTUR SUPORTER: Studi Etnografi tentang Proses Pencarian Informasi Suporter PERSIS SOLO dalam Membentuk Kultur Casuals

Penulis

Bayu Pratama Setia

Pembimbing: Dr. Budi Irawanto, S.I.P, M.A.


ABSTRACT: This study seeks to show how the information seeking process of the fans in the city of Solo to establish the identity of casuals culture, at the same time wanted to explore what are the media used the fans to be able to grab information about their new culture. This study used ethnographic methods to answer research questions. Participant observation, interviews and document study undertaken to explore the data. Informants in this study were four people consisting of the two founders of the community and two more members who join later. All informants are domiciled in the city of Solo. The study was conducted from March to November 2015 around the city of Solo. In stretching the English football fans, known hooligans term legendary and exist today. Hooligan itself contains terms that they�re a brutal football fans when the team lost to play his idol. In anticipation of unrest, their dressing style was already prepared with very mature for a fight. They are very rarely use the same clothes as her idol team or favorite team using attributes, and instead chose to dress with expensive branded clothes by mean not to reveal their identity to security forces and supporters of the enemy. This is where the emerging new culture called casuals. At the beginning of 2014, casuals culture began to explore the city of Solo. Casuals rooted culture of England recently did try to be followed and be absorbed in the tradition of supporting local clubs Indonesia, including in the city of Surakarta. The fans who call themselves PERSIS FANS trying to draw on their support being british style casuals. Clothing with distinctive brands such as Fila, Adidas, Ellesse, which cost hundreds of thousands to millions of rupiah began to rage and sought after by the fans. Although not a few people also choose to buy used, because of their limited money. The results of this study indicate that the fulfillment is done PERSIS FANS in his quest to find the information from several sources, both documents and non-documents. Sources of information that they can meet the needs of the desired information among other articles, films, books, people, and even social media. Broadly speaking, it is started by the curiosity of the informants and interest in casuals culture itself. Then all of informants exploring options that has been the adoption by seeking information about casuals through many channels. Thus collected various kinds of information referenced in shaping the culture of casuals in the city of Solo.

INTISARI: Penelitian ini mencoba menunjukkan bagaimana proses pencarian informasi para suporter di Kota Solo untuk membentuk identitas kultur casuals, sekaligus ingin menggali apa sajakah media yang digunakan para suporter untuk dapat meraih informasi mengenai kultur baru mereka itu. Penelitian ini menggunakan metode etnografi untuk menjawab pertanyaan penelitian. Observasi partisipatif, wawancara, dan studi dokumen dilakukan untuk menggali data. Informan dalam penelitian ini berjumlah empat orang yang terdiri dari dua pendiri komunitas dan dua anggota lagi yang bergabung setelahnya. Semua informan berdomisili di Kota Solo. Penelitian dilakukan dari bulan Maret hingga November 2015 di sekitar Kota Solo. Dalam geliat suporter sepak bola Inggris, dikenal istilah hooligan yang melegenda dan eksis hingga sekarang. Hooligan sendiri mengandung artian fans sepakbola yang brutal ketika tim idolanya kalah bertanding. Untuk mengantisipasi adanya kerusuhan, gaya berpakaian mereka pun sudah dipersiapkan dengan sangat matang untuk sebuah perkelahian. Mereka sangat jarang menggunakan pakaian yang sama dengan tim idolanya atau menggunakan atribut tim kesayangan, dan justru memilih berpakaian bermerek mahal agar tidak terdeksi oleh pihak keamanan dan pendukung musuh. Di sinilah muncul kultur baru yang bernama casuals. Pada awal tahun 2014 yang lalu, budaya casuals mulai merambah wilayah Kota Solo. Budaya casuals yang mengakar dari Inggris baru-baru ini memang coba dicontoh dan diserap dalam tradisi mendukung klub lokal Indonesia, termasuk di kota Surakarta. Para suporter yang menyebut dirinya PERSIS FANS berusaha meramu gaya mendukung mereka menjadi british style ala casuals. Pakaian dengan merek-merek khas seperti Fila, Adidas, Ellesse, yang berharga ratusan ribu hingga jutaan rupiah mulai digemari dan banyak dicari oleh kalangan suporter. Walaupun tak sedikit juga yang memilih membeli barang bekas, karena uang mereka yang terbatas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan yang dilakukan PERSIS FANS dalam pencariannya dapat menemukan informasi dari beberapa sumber baik dokumen maupun non-dokumen. Sumber informasi yang menurut mereka dapat memenuhi kebutuhan informasi yang diinginkan antara lain artikel, film, buku, individu dan bahkan media sosial. Secara garis besar hal ini dimulai oleh keingintahuan para informan dan ketertarikan kepada budaya casuals itu sendiri. Lalu kesemua informan menjelajah pilihan yang sudah ditetapkannya dengan mencari informasi tentang casuals melalui banyak kanal. Sehingga terkumpul berbagai macam informasi yang dijadikan acuan dalam membentuk identitas kultur casuals di Kota Solo.

Kata kunci casuals, informasi, identitas sosial, media, PERSIS FANS/casuals, information, social identity, media, PERSIS FANS
Program Studi S1 ILMU KOMUNIKASI UGM
No Inventaris
Deskripsi
Bahasa Indonesia
Jenis Skripsi
Penerbit [Yogyakarta] : Universitas Gadjah Mada, 2016
Lokasi Perpustakaan Pusat UGM
File Tulisan Lengkap dapat Dibaca di Ruang Tesis/Disertasi
  • Anda dapat mengecek ketersediaan versi cetak dari penelitian ini melalui petugas kami dengan mencatat nomor inventaris di atas (apabila ada)
  • Ketentuan Layanan:
    1. Pemustaka diperkenankan mengkopi cover, abstrak, daftar isi, bab pendahuluan, bab penutup/ kesimpulan, daftar pusatak
    2. Tidak diperbolehkan mengkopi Bab Tinjauan Pustaka, Bab Pembahasan dan Lampiran (data perusahaan/ lembaga tempat penelitian)
    3. Mengisi surat pernyataan, menyertakakan FC kartu identitas yang berlaku

<< kembali