PENGARUH KOMBINASI FRAKSI TAK LARUT n-HEKSAN EKSTRAK ETANOLIK HERBA SAMBILOTO (Andrographis paniculata (Burm.f.) Ness) DAN FRAKSI LARUT ETIL ASETAT EKSTRAK ETANOLIK PROPOLIS TERHADAP KADAR LDL DAN HDL TIKUS RESISTEN INSULIN
KARNIA RIEFLY HERDIANA, Prof. Dr. Suwijiyo Pramono, DEA, Apt.,
2013 | Skripsi | FARMASIDiabetes melitus dan sindroma metabolik mempunyai kelainan dasar yang sama yaitu adanya resistensi insulin. Dislipidemia merupakan suatu kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma darah. Dislipidemia pada diabetes ditandai dengan meningkatnya kadar trigliserida dan menurunnya kadar HDL kolesterol. Herba sambiloto (Andrographis paniculata (Burm.f.) Nees) dan propolis telah terbukti secara ilmiah dapat digunakan untuk menurunkan kadar kolesterol LDL dan meningkatkan kolesterol HDL. Penggunaan kombinasi fraksi tak larut n-heksan ekstrak etanolik herba sambiloto (FTS) dan fraksi larut etil asetat ekstrak etanolik propolis (FEP) diharapkan dapat memberikan efek penurunan kadar kolesterol LDL serta meningkatkan kadar kolesterol HDL lebih tinggi dibandingkan pemberian FTS tunggal. FTS diperoleh dari maserasi serbuk kering herba sambiloto dalam etanol 90% dan difraksinasi dengan n-heksan, sedangkan FEP diperoleh dari maserasi pasta propolis dalam etanol 50% dan difraksinasi dengan etil asetat. Hewan uji dikelompokkan menjadi 5 kelompok, yaitu kontrol normal, kontrol positif, kontrol negatif, FTS tunggal, serta kombinasi FTS dan FEP. Tikus resisten insulin dibuat melalui pemberian fruktosa dan pakan lemak tinggi selama 60 hari. Perlakuan ekstrak dilakukan pada hari ke-35 hingga hari ke-60. Kadar kolesterol LDL dan HDL ditetapkan pada hari ke-0, 35, dan 60. Analisis perubahan kadar kolesterol LDL dan HDL dilakukan dengan membandingkan persentase selisih perubahan kadar kolesterol LDL dan HDL sebelum dan sesudah pemberian sediaan uji menggunakan uji one-way ANOVA dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil uji Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan densitometri menunjukkan bahwa FTS mengandung andrografolid sebesar 11,63% b/b dan FEP mengandung flavonoid total sebesar 88,71% b/b. Hasil uji one-way ANOVA tidak menunjukkan adanya perbedaan bermakna antara kombinasi dengan bentuk tunggalnya (p > 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa belum dapat disimpulkan apakah kombinasi FTS dan FEP memiliki potensi penurunan kadar kolesterol LDL serta peningkatan kadar kolesterol HDL yang lebih efektif dibanding bentuk tunggalnya.
-
Kata Kunci : herba sambiloto, propolis, LDL dan HDL, dislipidemia