MENEMBUS BATAS-BATAS AGAMA: KONSTRUKSI DAMAI DI SUSURU, JAWA BARAT
IWAN SETIAWAN, Dr. Fatimah Husein
2013 | Tesis | S2 Agama dan Lintas BudayaDi tengah laporan-laporan “hitam†tentang Jawa Barat, seperti ditunjukkan oleh laporan tahunan The Wahid Institute, Setara Institute, dan Program Studi Agama dan Lintas Budaya (Center for Religious and Cross-Cultural Studies) ternyata masih ada daerahdaerah terpencil di Jawa Barat dengan beragam agama dan keyakinan yang sudah lama hidup dengan damai. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada “titik putih†di tengah “catatan hitam†Jawa Barat. Salah satunya adalah Susuru. Kedamaian Susuru menjadi perhatian media massa terutama ketika koran Kompas tahun 2012 menurunkan berita dengan judul “Keguyuban di Lembah Ciamis.†Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konstruksi damai yang ada di Susuru. Pengertian konstruksi dalam penelitian ini dipahami sebagai susunan rangka bangunan damai yang tersusun dari kondisi-kondisi yang ada di Susuru. Untuk mengetahui konstruksi damai di Susuru, maka penelitian ini berangkat dari dua pertanyaan mendasar, yaitu pertama; apa wujud-wujud nyata integrasi warga Susuru dan yang kedua mengenai apa yang menjadi konstruksi damai di Susuru. Berdasarkan pertanyaan penelitian tersebut, pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi-partisipatif terhadap beberapa kegiatan social-keagamaan warga. Selain itu, data juga dikumpulkan melalui wawancara semiterstruktur terhadap warga Susuru, baik itu tokoh-tokoh agama, pemerintah dan masyarakat umum yang berasal dari tiga komunitas berbeda. Begitu juga untuk mendukung keakuratan data, pengumpulam data dilakukan dengan metode dokumentasi berupa gambar, rekaman wawancara, field-note dan data-data pustaka yang lain untuk mendukung penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, wujud integrasi warga Susuru dapat dilihat dalam kegiatan-kegiatan berikut: acara selametan, acara kematian, ritual tahlilan, perayaan hari besar keagamaan, pembangunan rumah ibadah, bersih kampung, integrasi dalam organisasi sosial, dan interaksi di bidang ekonomi. Kedua, konstruksi damai di Susuru terdiri dari: 1) adanya nilai bersama yang diyakini oleh warga Susuru bahwa mereka berasal dari nenek moyang yang sama yaitu Eyang Anggayuda. Hal itu menciptakan ikatan kekerabatan yang kuat dan menjadi fondasi yang efektif dalam mengintegrasikan warga Susuru baik elit maupun massa. 2) Adanya integrasi elit di Susuru yang didukung oleh pembagian kekuasaan (power-sharing) yang memadai dan efektif untuk mensinergikan tokoh-tokoh agama dan pemerintahan sekaligus mempermudah koordinasi elit dalam menanggapi berbagai isu yang mengancam situasi damai. 3) Adanya integrasi massa berupa keterlibatan warga dalam berbagai aktivitas sosial-keagamaan. Dengan begitu, masingmasing komunitas dapat dengan mudah melakukan kokordinasi dan klarifikasi terhadap informasi negatif yang berkembang. 4) Adanya mekanisme penyelesaian konflik selfpolicing yaitu kemampuan menyelesaikan potensi konflik dalam komunitas. Anggota komunitas yang membuat masalah diadili dan diberi sangsi oleh tokoh komunitas tanpa melibatkan komunitas lain sehingga konflik tidak melebar menjadi konflik lintas komunitas.
In the midst of “black†reports of West Java issued by some NGO’s such as The Wahid Institute, Setara Institute, and CRCS (Center for Religious and Cross-Cultural Studies), there are still rural areas in West Java with the diversity of religions and beliefs that have long lived in harmony and peace. This shows that there is still a “white spot†in the middle of “black record†of West Java. One of those rural areas is Susuru. Peaceful and harmonious Susuru attracted the attention of the mass media, especially since 2012 that the national newspaper Kompas reported news under the title “Keguyuban di Lembah Ciamisâ€(Harmony in the Valley of Ciamis). This study is intended to find out what the forms of community integration in Susuru are and what factors contribute to the construction of peace in Susuru. To be more specific, this study will examine the integration of Susuru people in the form of joint participation in various social and religious activities. This study is a qualitative research. Data was collected through three methods. First, participant-observation was done by participating in the activities undertaken by the four communities. Such activities include: daily life, weddings, funerals and tahlilan; construction of houses of worship; celebration of religious holidays; and cleaning the village. Second, semi-structured interviews was done with government officials, religious leader, and ordinary people from different communities. Third, personal documentation that includes camera, sound recorder, fieldnote to maintain data accuracy and so library data to support research data. This study concludes that, first, the form of integration in Susuru can be seen in the following activities: selametan event, the event of death, tahlilan ritual, celebration of religious holidays, the construction of houses of worship, cleaning the village, the integration of social organization and interaction in economy. Second, construction of peace in Susuru consists of: 1) the existence of shared values of Susuru community that are based on the belief in Susuru kinship ties are an effective foundation in integrating citizens both at the elite level and the mass level. Moreover, those values put everyone in a positive way in daily interactions. 2) The existence of elite integration that is supported by the distribution of power (power-sharing) is an adequate and effective energy to synergize the religious elites and government elites as well as facilitating coordination of the issues that threaten the peaceful situation. 3) The mass integration in the form of the involvement of citizens in the socio-religious activities. By doing so, each community could confirm or share information so that the information would not provoke or increase mass rage. 4) selfpolicing as a conflict resolution mechanism is quite effective in reducing conflict so that the conflict does not escalate to cross-community conflict.
Kata Kunci : konstruksi, damai, integrasi elit, integrasi massa, resolusi konflik