CITRA KEKERABATAN SUKU BATAK SUATU TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA TERHADAP TEKS ONANG-ONANG BATAK ANGKOLA
Nurhati Ritonga, Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, M.Phill
2011 | Tesis | S2 SastraTeks onang-onang (TO) adalah teks yang digunakan untuk mengiringi tarian adat dalam pesta adat Batak Angkola, yang sampai saat ini masih mendapat sambutan di tengah-tengah masyarakatnya. TO yang bersifat tradisional dikhawatirkan akan mengalami kepunahan di era globalisasi ini. TO sebagai sastra rakyat diprediksi mengandung nilai-nilai sosial yang bermanfaat bagi kehidupan dan dapat menjadi pintu masuk untuk memahami kehidupan sosial suku Batak Angkola, sehingga perlu diterjemahkan dan diteliti untuk menggali nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Tujuannya adalah untuk memahami kehidupan sosial suku Batak Angkola, khususnya tentang kekerabatan yang sangat berperan dalam kehidupan masyarakat. Pendekatan yang digunakan untuk menganalisis permasalahan dalam penelitian ini adalah sosiologi sastra yang berasumsi bahwa karya sastra sebagai dokumen sosial, didampingi dengan teori kelompok kekerabatan. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Data primer didapatkan melalui pembacaan TO yang telah ada, kemudian dilanjutkan dengan mengambil kutipan larik-larik teks yang menunjukkan adanya citra kekerabatan. Data sekunder diperoleh dari bahan-bahan pustaka yang memiliki relevansi dengan penelitian ini, didukung dengan wawancara dengan beberapa narasumber dan pengamatan langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TO sebagai refleksi masyarakat menggambarkan bahwa kekerabatan masyarakat Batak Angkola dikelompokkan berdasarkan pengelompokan adat, yaitu kelompok: keluarga inti, keluarga luas, klen besar, kindred, kerajaan, tokoh masyarakat, kerajaan desa tetangga, dan remaja. Setiap kelompok kerabat diharapkan bersikap dan berprilaku sesuai dengan filosofi adat Dalihan na Tolu yang merupakan warisan dari leluhur. TO juga menggambarkan bahwa nilai-nilai yang mendasari hubungan kekerabatan adalah kasih sayang, agama, adat, musyawarah, hormat-menghormati dan rendah hati. Nilai-nilai ini dipengaruhi oleh harapan dan cita-cita orang Batak untuk mendapat hagabeon (kebahagiaan), hamoraon (kekayaan) dan hasangapon ( kehormatan). Orang Batak percaya bahwa kerabat turut berperan dalam pencapaian cita-cita seeorang. Pengelompokan kekerabatan Batak yang bersifat adat hanya fungsional ketika adat masih dilaksanakan, oleh karena itu TO sebagai sastra rakyat diharapkan menjadi alat untuk melestraikan kedudukan adat di masyarakat. Citra kekerabatan yang tergambar dalam TO tidak sama benar dengan citra kekerabatan dalam fenomena empiris. Adanya perubahan karena reinterpretasi masyarakat terhadap nilai-nilai sosial dalam konteks kekinian. Rainterpretasi dimaksudkan dalam rangka melestarikan nilai-nilai warisan leluhur dengan cara yang berbeda, sesuai dengan situasi dan kondisi.
Onang-onang texts (TO) is the text used to accompany traditional dances in traditional Batak Angkola party, which is still received in the midst of society. TO which is traditionally feared to be extinct in this era of globalization. TO as folk literature contains predicted social values that are beneficial to life and can be a doorway to understanding the social life of the Batak tribe Angkola, so it needs to be translated and studied to explore the values contained in it. The goal is to understand the social life of the Batak tribe Angkola, especially about the kinship plays an important role in public life. The approach used to analyze the problems in this study is the sociology of literature which assume that the literary work as a social document, accompanied by theories about kinship group. It is of the kind of qualitative-descriptive study. The primary data is collected by reading the existing Onang-onang texts and continued by picking the excerpts of the rows in the texts indicating the presence of kinship image. The secondary data is obtained from literature materials relevant with the study and supported by interview with some resource persons and direct experience. The results showed that the TO as a reflection of society illustrates that kinship society stratified by grouping Angkola Batak peoples, namely the group: the nuclear family, extended family, a large clan, Kindred, royal, public figures, royal neighboring village, and teens. Each group of relatives are expected to behave and act in accordance with the philosophy of indigenous Dalihan na Tolu which is inherited from ancestors. TO also illustrates that the values underlying the kinship is love, religion, custom, consultation, mutual respect and humility. These values are influenced by the hopes and ideals of the Batak people to get hagabeon (happiness), hamoraon (wealth) and hasangapon (honorary). Batak people believe that the relatives contributed to the achievement of a person of ideals. Batak kinship grouping which is indigenous only functional when the custom is still carried out, therefore, expected to TO as folk literature became a tool for melestraikan customary position in society. Kinship imagery depicted in TO is not the same is true with the image of kinship in the empirical phenomena. There is a change because the public reinterpretation of social values in the present context. Rainterpretasi intended in order to preserve the values of heritage in different ways according to circumstances.
Kata Kunci : teks onang-onang, citra kekerabatan, sosiologi sastra