Laporkan Masalah

Menjadi Aceh di Panti Asuhan :: Studi tentang sosialisasi anak Aceh di panti asuhan pasca bencana

PRASETYO, Kuncoro Bayu, Prof. Dr. Irwan Abdullah

2009 | Tesis | S2 Antropologi

Tesis ini merupakan hasil penelitian lapangan yang memfokuskan pada kajian tentang kebijakan penciptaan panti asuhan baru yang didirikan pasca terjadinya bencana tsunami Aceh 26 Desember 2004, beserta proses pengasuhan yang kemudian berlangsung di dalamnya untuk membentuk anak – anak asuh menjadi anak Aceh sebagaimana harapan masyarakat setempat. Penelitian dilakukan empat tahun setelah bencana tsunami terjadi, tepatnya pada bulan Juli hingga September 2008. Teknik penelitian kualitatif dengan metode etnografi melalui pengamatan langsung dan terlibat (observasi partisipasi) serta wawancara bebas dan mendalam banyak dilakukan selama peneliti berada di lapangan. Untuk memudahkan proses penelitian, wilayah kajian dibatasi pada dua buah panti asuhan. Dua lokasi penelitian yang dipilih dipandang dapat mewakili gambaran panti asuhan yang bermunculan pasca bencana tsunami di Aceh. Lebih lanjut, penelitian ini dilakukan untuk menjawab permasalahan yang dirumuskan dalam tiga pertanyaan penelitian sebagai berikut: 1) Bagaimana proses sosialisasi dan pengasuhan anak dijalankan di panti asuhan yang didirikan pasca bencana tsunami di Aceh?; 2) Apa saja kepentingan yang muncul di dalam lembaga maupun di dalam proses– proses pengasuhan yang dilakukan panti asuhan pasca bencana tsunami di Aceh?, dan 3) Bagaimana anak penghuni panti asuhan memaknai dan mewujudkan keberadaan diri atau eksistensi mereka sebagai anak Aceh? Kemunculan panti asuhan pada periode pasca tsunami di Aceh banyak didorong oleh berkembangnya wacana dan isu mengenai kekhawatiran terjadinya eksploitasi anak korban bencana, child trafficking dan pelunturan budaya dan identitas keacehan karena maraknya rencana adopsi dan penempatan anak – anak Aceh korban tsunami keluar wilayah Aceh. Panti asuhan kemudian menjadi ruang sosial baru yang menempatkan pengelola, pengasuh dan kawan senasib sebagai agen yang berperanan dalam proses sosialisasi anak – anak. Panti asuhan menjadi instrumen dalam mengasuh anak – anak Aceh korban tsunami dan membentuknya sebagai generasi penerus pemangku kebudayaan Aceh sebagaimana diharapkan oleh sebagian masyarakat di Aceh. Bagi panti asuhan, menjadikan anak asuh sebagai Aceh adalah sekaligus menjadikan mereka sebagai anak Islam. Oleh sebab itu sosialisasi yang terjadi di panti asuhan tidak lain merupakan sebuah proses Islamisasi terhadap anak asuh. Pengasuhan di panti asuhan juga tidak lepas dengan berbagai kepentingan yang menyertainya. Kepentingan negara, kepentingan pasar dan politik kebudayaan global secara langsung maupun tidak langsung turut mewarnai dinamika kehidupan anak – anak di panti asuhan. Dinamika yang terjadi di dalam panti asuhan dengan demikian merupakan sebuah gambaran kecil mengenai apa yang tengah terjadi di dalam kehidupan masyarakat Aceh pasca bencana tsunami.

This thesis is the result of field research that focused on the study about the policy of building new orphanages after tsunami disaster in Aceh on 26 December 2004, along with the nursing process happened in those orphanages to make the orphans become Aceh children as society’s hope. This research was done four years after tsunami, i.e. from July to September 2008. Qualitative research technique with etnography method by observing and being involved directly (participation observation) and also by interviewing freely and deeply was done by the researcher during his time there. To ease the research process, the focus of the study is limited by doing the research only in two orphanages. Those two research locations are considered as orphanages which represent the description of common orphanaged built after tsunami. Furthermore, this research was done to answer the problems that can be formulated in these three questions: 1) How has the socialization and nursing process been run in the orphanages built after the tsunami disaster in Aceh? ; 2) What are the interests that have appeared both inside the institution and in the nursing process done by the orphanages after the tsunami disaster in Aceh? ; and 3) How do the orphans who live in the orphanages understand and materialize their existence as Aceh children? The appearance of orphanages in after-tsunami-disaster period in Aceh was urged by the grow of discourse and issue about the worry of the disaster-victim-children exploitation that might happen, child trafficking and the culture and Aceh identity that might fade because there are a lot of plans to adopt and place those Aceh children out of Aceh areas. Then, the orphanages become a new social space that put the organizers, nurses and friends as the agents who has roles in children socialization process. The orphanages become an instrument in nursing children and shape them as the generation who will continue Aceh culture as the expectation of the society. For the orphanages, to educate the orphans to be Acehnese children also means to educate them to be Moslems.Therefore, the sosialization in the orphanages is nothing but the Islamization towards the orphans there. On the other hand, the nursing in the orphanages cannot be separated with various interests happened inside. The interests of the state, market and global culture politic directly or indirectly color the dynamics of the children’s life in the orphanages. The dynamics happened in the orphanages is a small representation about what is happening in Aceh people’s life.

Kata Kunci : Aceh,Panti Asuhan,Anak korban bencana Tsunami,Pengasuhan,Sosialisasi,Kebudayaan,Islam, Aceh, Orphanages, Children of tsunami disaster victim, Nursing, Socialization, Culture, Islam


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.