Laporkan Masalah

Masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor :: Interpretasi, penyebab dan strategi adaptasi

DONIE, Syahrul, Dr. Suharko

2007 | Tesis | S2 Sosiologi (Sosiologi Pembangunan Masyarakat Des

Penelitian ini mempertanyakan, “mengapa masyarakat masih tetap bertahan bertempat tinggal di daerah rawan longsor ?“. Untuk itu penelitian difokuskan untuk menjawab: Bagaimana masyarakat menginterpretasikan bencana alam tanah longsor dan tempat tinggal bagi diri mereka ? Faktor-faktor apa yang menyebabkan masyarakat tetap bertahan bertempat tinggal di daerah rawan longsor ? Strategi seperti apa yang dilakukan masyarakat sehingga mereka dapat bertahan/ beradaptasi di rawan longsor tersebut ?. Mengacu pada Teori Mead tentang konsep diri bahwa manusia bertindak, dalam hal ini tetap bertahan tinggal di daerah rawan longsor, tidak hanya dipengaruhi oleh stimulus, dalam hal ini bahaya longsor, yang sampai ke panca indera mereka, akan tetapi diproses terlebih dahulu melalui ”proses berpikir” sehingga menentukan tindakan yang akan diambil sesuai dengan interpretasinya termasuk apakah mereka akan tetap bertahan bertempat tinggal pada suatu tempat. Proses berpikir tersebut dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor yang berasal dari individu itu sendiri (internal) dan faktor yang berasal dari luar individu Penelitian melibatkan 35 orang (24 orang setelah divalidasi) mewakili kategori kelompok umur dan jenis kelamin, dan hasilnya didiskripsikan secara kualitatif. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan : 1. Dalam menginterpretasikan atau memaknai bahaya tanah longsor dan tempat tinggal terdapat perbedaan antara kelompok umur. Kaum tua menginterpretasikan kejadian tanah longsor sebagai suatu hal yang biasa-biasa saja bahkan menganggap kejadian tersebut merupakan Takdir Yang Maha Kuasa. Sedang kaum dewasa dan sebagian kaum tua menganggap kejadian longsor merupakan akibat kesalahan manusia dalam memanfaatkan dan mengolah lahan, termasuk di dalamnya melanggar laranga n nenek moyang, seperti pelarangan menebang pohon, memotong lereng, bertanam tanaman semusim di lahan yang miring dan sebagainya. Mereka menganggap kalau larangan atau kesalahan ini tidak dilakukan oleh manusia maka bahaya tanah longsor tidak akan terjadi. Bagi meraka tempat tinggal adalah suatu harta yang perlu diwariskan ke anak cucu. Oleh karena itu perlu dijaga dan dipertahankan. Sebaliknya kaum muda dan sebagian generasi dewasa, baik laki-laki maupun perempuan menginterpretasikan bahwa bencana longsor merupakan sesuatu yang menakutkan. Bagi mereka tempat tinggal adalah tempat hidup sementara, yang mereka sebut dengan tempat berteduh, dan siap pindah kapan saja.; 2. Penyebab masih bertahannya masyarakat bertempat tinggal di daerah rawan longsor selain interpretasi diatas juga disebabkan Pertama oleh nilai- nilai yang ada di sebagian masyarakat yang masih fatalistik, yang menghubungkan segala sesuatu yang terjadi kalau tidak ada izin dari Tuhan Yang Maha Esa, tidak mungkin terjadi, apalagi pada masyarakat desa ini masih kental nilai- nilai budaya Jawa yang memiliki keterikatan pribadi dengan tanah dan lingkungan tempat tinggal serta keluarga dan desa kelahirannya. Nilai selalu mempertahankan warisan nenek moyang, tempat penghidupan dan tempat bersosial, dan nilai warisan itu perlu dipertahankan dan diwariskan ke anak cucu, ikut mempengaruhi generasi tua dan sebagian generasi dewasa untuk tetap bertahan bertempat tinggal di lokasi saat ini; Kedua oleh kondisi sosial ekonomi rumah tangga yang ”pas-pasan”, tidak mampu untuk menyediakan lahan yang lebih layak, kehidupan mereka terjebak hanya untuk pemenuhan kebutuhan dasar daripada kebutuhan rasa aman sehingga mereka tetap bertahan tinggal di daerah yang secara fisiografis rawan terhadap longsor. Bagi mereka,kalau sudah punya uang, mereka berkeinginan untuk mencari tempat tinggal yang lebih baik dan lebih aman. Kondisi ini dialami oleh sebagian generasi dewasa; Ketiga oleh pengalaman mereka terhadap kejadian longsor dan frekwensi kejadian longsor itu sendiri. Walaupun dari peta daerah mereka rawan longsor namun dari pengalaman mereka belum pernah terjadi. Hal ini memperkuat keyakinan mereka bahwa kalau tidak ada izin dari Yang Maha Esa maka bahaya itu tidak akan terjadi; Keempat oleh kondisi Sosial dan Kelembagaan Masyarakat Desa Purwoharjo yang masih baik, yang memiliki tingkat hubungan antar individu dan kelembagaan yang kuat membuat mereka merasa tidak sendirian. Budaya hidup rukun, tolong menolong serta saling mengingatkan sesama mendorong masyarakat tetap bertahan; Kelima oleh kurang kondusifnya kebijakan yang diterapkan pemerintah dalam penanganan masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor. Kebijakan yang diambil pemerintah sering tidak dapat menyentuh kebutuhan dan nilai- nilai yang berkembang dalam masyarakat di daerah tersebut, sehingga membuat masyarakat tidak tertarik akan apa yang ditawarkan oleh pemerintah untuk pindah lokasi tinggal. Berdasarkan pengalaman mereka relokasi yang dilakukan pemerintah yang diharapkan dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik dan sesuai dengan kondisi sosial dan budaya mereka sebelumnya, tampaknya tidak dapat diwujudkan. Kebijakan yang kurang kondusif bagi kehidupan sosial dan ekonomi mereka ini membuat masyarakat tidak mau pindah dan tetap bertahan di tempat sekarang mereka berada. 3. Untuk menghadapi tantangan kehidupan, masyarakat Desa Purwoharjo berusaha menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang ada, melalui: Pertama menjaga hubungan dengan alam. Mereka berkeyakinan bahwa manusia memiliki hubungan dan relasi dengan alam serta mahluk hidup lainnya. Kejadiankejadian bencana alam longsor sangat terkait dengan adanya warga yang melanggar larangan nenek moyang, yaitu larangan agar tidak mengganggu dan merusak alam. Untuk itu, agar mereka selamat dan memperoleh keberlanjutan kehidupannya, masyarakat berusaha untuk tidak melanggar larangan dan berusaha untuk melestarikan alam melalui nilai- nilai yang digariskan oleh nenek moyang, seperti ”bersih desa”, tidak menanam tanaman semusim dan bercocok tanam serta mengolah tanah pada lahan yang memiliki kemiringan terjal, tidak menebang serta pengundulan hutan, dan apabila terjadi hujan lebat, masyarakat supaya mengurangi tidur, menurut mereka bencana takut kepada orang yang tidak tidur; Kedua, secara perseorangan maupun berkelompok setiap memasuki musim hujan mereka melakukan perbaikan dan pembersihan saluran, menimbun tanah atau lahan yang retak, membangun tanggul penahan serta tidak melakukan penanaman tanaman semusim pada daerah perbukitan; Ketiga, secara sosial kelembagaan mencoba membangun komunikasi yang baik, melalui pertemuan-pertemuan desa, RT atau airsan, pemuka masyarakat mengingatkan agar mematuhi larangan-larangan nenek moyang dan mengadakan kegiatan ”dedel” dan ”gogos”.Dan juga membunyikan kentongan apabila terjadi situasi darurat; Keempat, berusaha melakukan mitigasi dengan mengamati tandatanda alam baik fisik maupun non fisik (wangsit), diantaranya air yang keluar dari celah tanah ketika hujan turun, rekahan atau retakan tanah dan suara-suara ”aneh” yang muncul ketika hujan turun.

The research is aimed to know: 1. How the peoples interpret the land-slide disaster and residential for themselves. 2. Factors affecting the peoples keep staying in the land-slide disaster sensitive area. 3. Strategies performed by the people so that they are able to adapt themselves in the land-slide disaster sensitive area. The research employed descriptive qualitative method and interviewed 35 respondents representing various categories of age and sex. Based on the research findings, it can be concluded that: 1. In interpreting or giving meaning to the danger of landslide disaster and residential, there are differences among group ages. The elders interpret the landslide disaster as a common phenomenon; indeed, they interpret it as God’s determination. Whereas the adults and parts of the elders interpret the landslide disaster as human’s lapse in utilizing and cultivating the land – within which conveying violation of ancestors’ prohibitions – such as the prohibition of tree chopping, pruning the mountain’s slope, cultivating seasonal crops on the sloping area etc. They consider that if the prohibitions are not violated the landslide disaster may not occur. Residence, for them, is a valuable property that should be inherited to their descendants. Therefore, it needs to be maintained and protected. On the contrary, for the younger and parts of the adults, both males and females, interpret that the landslide disaster is a frightful disaster. Residence, for them, is viewed as a temporary living place, which they call as a shelter, and they are ready to move whenever needed. ; 2. The reason of peoples’ detainment to stay on landslide sensitive area, besides the above interpretations, are also grounded on certain reasons such as: Firstly, values believed by parts of strict religious believers that relate all happenings may happen upon God’s determination – moreover, in most rural peoples – the Javanese culture values such as personality bound with their environment, and family and their homelands, are highly believed. The values of keeping and maintaining ancestors’ heredity, living and social environments, and heirlooms values need to be maintained and inherited to their descendants, may add to the elder generations and parts of the adults to keep staying in the area; Secondly, by the limited social economic condition, incapability to prepare more adequate lands, their living are almost trapped in fulfilling their basic need instead of the need of security so that they strive to stay in the area, which is in physiographical term, is stated as landslide disaster sensitive area. For them, when they have enough money, they want to find a better and safer residence. Such a condition is also experienced by parts of adults; Thirdly, their experiences on landslide disaster and the occurrence frequency. Based on the erosion sensitive area map, they are living on the area categorized as the sensitive area, however, based on the experience they have never experience such happening; Fourthly, the social and institutional condition of rural society of Purwoharjo Village is quite good. They have a strong inter-individual and institutional relationship, so that they feel they are not alone. The community, helping each other and warning each other cultures encourage the peoples to stay; Fifth, the less conducive government policy in handling people living in landslide disaster sensitive area. The policy decided by the government is seldom taking the peoples’ need and values develop in the society living in the area into account, so that they do not interest in the government’s offering to migrate to new location. Based on their experiences they had, the relocation facilitated by government – in which they expect it may provide a better living condition and in accordance to their previous socio cultural condition – seem to be beyond their expectation. The less conducive policy decided by government deterred them to be relocated and they prefer to live in the area where they are. 3. The peoples of PurwoharjoVillage in their endeavor to adapt with the existing condition to deal with the problems of life undergone the following strategies; Firstly, maintain their relationship with the nature. They believed that human being has a close relationship with nature and other creatures. The occurrences, such as landslide disaster, are associated to the violation of ancestors’ prohibitions, namely the prohibition of not to cause detriment and spoil the nature. Therefore, in order to be secured and the continuity of their lives maintained, the peoples strived not to violate the ancestors’ prohibition and endeavor to conserve the nature through the manifestation of values outlined by the ancestors, such as ‘bersih desa’, not to cultivate seasonal crops and cultivate the sheer land, not to chop the trees, and when the rain hard comes they are encouraged to lessen the sleeping time. In their traditional faith, disaster may not occur if they are not sleeping; Secondly, people, both individually and communally repair and clean the drainage, filling up the cracking land with soil, building an embankment, and not to cultivate the seasonal crops on hilly lands; Thirdly, people try to build a good communication – both institutionally and socially – through the villages, neighborhood or social gatherings, the public figures recall the followers to obey the ancestors’ prohibitions and arrange “dedel” and “gogos” ceremonies, and also to make alarm signals in emergency condition; Fourthly, try to perform mitigation by observing natural signs both physically and non-physically (through divine inspiration) – they are covering water perforation from the land’s fissures when the rain falls, fissures or cracking on land’s textures and ‘perplexing’ sounds come out when the rain falls.

Kata Kunci : Bencana Alam,Tanah Longsor,Interpretasi Masyarakat


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.