Laporkan Masalah

Basa-basi dalam masyarakat bahasa Indonesia

ARIMI, Sailal, Dr. I Dewa Putu Wijana, SU.,MA

1998 | Tesis | S2 Linguistik

Tesis ini bertujuan untuk memerikan etnografi berbasa-basi dalam masyarakat bahasa Indonesia, menjelaskan kebutuhan pemakaian baa-basi (b2),menguraikan jenis-jenis, dan inenunjukkan kekhasannya. Dalam kerangka pencapaian tujuan, penelitian dilakukan berdasarkan tip tahap metodologs yang berpijak pada konsepsi dasar triangulasi. Tahap pertama, metode penyediaan data, digunakan metode introspeksi, metode simak dengan teknik simak libat cakap (atau metode interaktif natural) dan teknik simak bebas libat cakap, metode konsultatif, dan metode pseudonatural. Tahap kedua, metode analisis data, dimanfaatkan metode padan pragmatis, metode padan translasional, metode a g h diikuti oleh beberapa teknik, seperti t e h k lesap, perluas, ulang, substitusi, dan balik. Tahap ketiga, metode penyajian hasil analisis, memaliai metode informal dan formal, artinya baik melalui rumusan kata-kata maupun memakai tanda dan lambang-lambang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa b3 merupakan peinakaian bahasa yang lentur dan tipikal, mudah dan b i a s diucapkan tetapi seringkali Citoiak jika ditaiyakan kebasa-basiannpa. Melalui analisis komponen, didapati bahwa b2 merupakan (,I) pcrcakapan i-&tin,(2j tcgur sapa, sopan santiii, dan iamah tzimah, (3) tuturan yang tidak ri;emcntingkan infomasi, dan (4) penjalin solidantas dan harmonisasi. Berdasarkan bentuknya, terdapat bentuk direkif (impositit), komisif. ekspresif, dan deklaratif (asertif). Dalam penyampaian b2 peserta tutur sekurang-kurangnya h a m mematuhi noma-norma berikut ( i ) pergantian bicara tidak tuinpang tindih, ( i i ) honoritik sebagai pemisah santun anrapnutur, ( i i i ) sistem wajah saling ben perhatian, ( i v jjarak normal, dan ( v ) hindari kesenyapan. Secara pragmatik, pemakaian tuturan b2 pun hams mematuhi prinsip kesantunan dan prinsip keja sama berikut dengan maksimmaksimnya. Memandang wujud tuturan bZ itu, b2 juga memiliki variasi-variasi sosiolinguistis, antara lain. !i) variasi tutur lengkap clan tutur ringkas, ( i i ) variasi formal dan informal. Hubungan antarvanasi ini menunjukkan bahwa semakin lengkap tuturan semakin fonnal b h y a , semakin ringkas tuturan semakin informal bhya. Dikaitkan dengan faktor peserta tutur, semakin (dianggap) dikenal/akrab hubungan antarpenutur semakin informal pula b2nya. Adapun fungsi pemakaian b2 dalam masyarakat Indonesia sebagai alat interaksi antarpenutur yang dalam teori fungsi disebut h g s i interaksional. Pemakaian ini memenuhi subfungsi baik unruk membina dadatau mempertahankan hubungan sosiai mtarpenutur. Kebutuhan penutur akan b3 berkaitan dengan si_@fikansinya, berdasarkan prakondisi dan praanggapan atas keperluan (i) penyosialisasi, pereda, peringan beban psikologs peserta tutur, (ii) substruktur pengaman, penyejuk suasana, (iii) penyamaan perasaan dan pandangan, penghindar konflik dan pertentangan. Dalam hubungan ini, dengan pemakaian b2 diharapkan tercapainya solidaritas dan harmonisasi antarpenutur. Tentu saja kebutuhan akan b2 ini berkaitan dengar, fiimgsi dan subhngsi yang disebuikan di muka. Dan sudut fungi hakiki bahasa, b2 merupakan sejemput fenomen bahasa yang berfungsi sebagai pemelihara keja sama dan sangat reflektif sebagai percontoh pewujud saling sesarnanya. Berdasarkan daya tuturan b2 digolongkan atas dua jenis, yaitu b2 inurni dan b2 polar. B2 jenis pertama dipakai secara otomatis, spnian, teratur, dan mekanis dalam suatu situasi tutur tertentu dengan bentuk-bentuk interaksi tertentu pula sesuai dengan gejala peristiwa tutur yang muncul. B2 ini memiliki tuturan sesuai dengan gambaran realitas. Modus b2 murni muncul sebagai tegur sap, sopan santun, atau ramah tamah. 5 3 jenis kedua secara rin-elias merupakan wujud b2 yang tuturannya berlamnan dengan realitasnya. Kepolaran b2 ini hgambarkan dengan sifat keasimetrisan tuturan, yaitu penutur memilih tuturan yang tidak sebenarnya untuk menunjukkan sikap yang lebih sopan. Pada konteks b2 irii terdapat ketidakbenaran realitas fisik. Secara eksternal, tuturan b2 mempunyai daya menjad tuturan nonb2. Secara internal tuturan b2 memiliki daya gerak inumi ke polar. Pembicaraan daya menjelaskan tejadinya gejala perluasan makna dan pemakaian b3 karena daya itu sendiri mencakup makna. Dijelaskan bahwa b2 mengandung makna afektif karena apa yang dikomunikasikan dalam b2 itu berkaitan dengan perasaan dan pxiiaku penutur untuk melahxkan. kontak densan mitra tutur. Makna afektif demikian dimczgziti sebagai pemaknaan yang positif dengan makna yang ‘sesungghnya’ karena itu b2 bennakna amelioratif pula. Ddam perkembangan pemakaian- b2 meluas membentuk cabang makna peq.oratif karena b2 dipandang sebagai pemaknaan yang negatif dengan rnakna yang ’tidak sesungguhnya’ . Tenninal per1uasan inengacu pada paradoks tuturan sebagai bentuk pemakaian b2 murni dan b3 polar. Di samping berdasarkan daya tuturan, b2 juga dapat dikelompokkan berdasarkan maksud-maksudnya. Sekurans-kurangnya terdapat dua puluh empat maksud tuturan b2 daiam bahasa Indonesia, yaitu maksud se’oagai saiam, perkenaian, sapaan, konyatuiasi, penghampan, ajakan, tawaran, himbauan, larangan, rejeksi, persetujuan, penerimaan, pemakluman, janji, pujian, penilaian. perendahan hati, simpati, perhatian. pengingatan kembali, apologi, persilahan. terima kasih, dan perpamitan. Maksud-maksud ini mencerminkan sifat fungsi. Sebuah tuturan selalu multifungsi karena itu tuturan selalu pula multimaksud. Naniun demikian. ketika penutur dengan segenap kelengkapan konteksnya menyampaikan sebuah tuturan maka tuturan tersebut memiliki sebuah tnaksud tunggal: Penutur menyampaikan satu maksud dan mitra t u t u menafsirkannya. B2 bersifat universal, tetapi pemakaian b2 berbeda-beda antara masyarakat bahasa yang satu dengan masyarakat yang lain sehingga menghasilkan kekhasan-kekhasan tertentu. Kekhasan itu setidak-tidaknya bersumber dari kekhasan kebiasaan berbahasa, dan kekhasan sistem bahasa. Kekhasan kebiasaan berbahasa mencenninkan kekhasan budaya yang diwujudkan oleh kekhasan topik-topik dan pemakaian b2. Topik-topik yang khas dibasa-basikan antara lain ahvitas, tujuan, t e m p t tinggal, pekejaan dan pendidikan. Kekhasan pemakaian dmnjuklian oleh bentuli-bentuk yang khas artinya, tidak terdapat dalam kebiasaan b2 bahasa yang dibandingkan, bentuk mirip tetapi pemakaian berbeda, dan bentuk berbeda pemakaian sama. Keknasan yang bersumber pada sistem bahasa ditunjukkan oleh sistem bertutur tidak eksplisit yang di antaranya dijelaskan melalui pemakaian kata ganti milik (-n.u),pelesapan kata ganti orang kedua tunggal (s(mkurukurrtzc undu)dan kata ganti pertama jamak jkircr).

This study aims to describe baa-basi (b2) ethnography, explain its uses, elaborate its types,and show its particulars. As to fulfill the aims, the research is based on three methodologicalstages relying on basic triangulation concepts. First,’toprovide data the researcher applies introspection method, observation method with the techmques of active partcipation (interactive natural method) and non-active participation, consultative method, pseudo-natural method. Second, to analyse data the researcher makes the most of pragmatic (identity) method, translational (identity) method, and distributional method which is followed by some techniques such as deletion, extention, repetition, substitution, and permutation Third, to report the analyses the writer uses formal and informal method whtch means that either verbal formula or symbols and signs are respectively presented. The research shows that b2 is a piece of flexible and typical language use, easily and customarily uttered, but mostly rejected when the participant‘asks its b2 entity. By analysing its components, bZ is elaborated as ( I ) routine conversation, (2) greetings, courtesy, and sweet nothings, (3) the utterance of neglecting informative content, and (4)bond of harmonization and solidari5. Based on its formal features, b2 is realized into directives (impositives), commisives, expressives, and declaratives (assertives). There are five norms of speaking, among others, which should be obeyed in doing communicative b2, i.e. ( i ) no overlap norms for conversational turn-taking, (ii) honorifics as polite gap between speakers, (iiij system of the mutual care-givings,(iv) normal distance, (v) no mute duration. The use of b2 is pragmatically to be ruled out by cooperative and politeness principles with their maxims. B2 also sociolinguistically has several variations, such as (i) elaborated codes and restricted codes, (ii) informal and formal codes. The relation of intervariation shows that the more elaborated the codes the more formal the b2 is, the more restricted the codes the more informal the b2 is. Related to the participant component, the more (supposedly) recognizedclose the speakers the more informal they use the b2. In Indonesian speech community b2 is functioned as a means of interspeakers interaction, according to the theory of function it is called interactional function. Such use encounters subfunctions of either to establish andior to maintain social relationshipbetween speakers. Speakers’ need of b2 deals with its significances on the basis of presupposition and precondition to the necessities for (i) socializing, calming down and lightening of speakers’ psychological burden, (ii) substructure of safety and comfortability, (iii) equalizingideas and feelings, removing controversy and conflict.In line with ths need, the b2 use is expected to achieve harmonization and solidarity between speakers. The need definitely deals with function and its subhctions mentioned above. In the perspective of the principle language function, b2 constitutes as a piece of linguistic phenomenon whose function is to maintain cooperation and as a model of creating human for mutually the same-felt beings. Based on its inforcement b2 is classified into pure b2 and polar b2. The first is used automatically, spontaneously, regularly, and mechanically in a certain speech situation as well as in the forms of certain interaction as to accord with the occuring speech event phenomena. The utterance of such b2 fits to reality depicting to it. This kind of b2 occurs in modes of greetings, courtesies, or sweet nothmgs. The latter type is simply pictured in terms of asymmetry nature, i.e, the speaker chooses an utterance which means another to show a more polite attitude. In tlus context, there is a fact of physically unfit reality. The utterance of b2 externally has inforcement to change into nonb2 and internally it has inforcement to move from pure b2 into polar one. The discussion on inforcement actually explains that there is a phenomenon of meaning and use expansion since the inforcement includes meaning. B2 contains affective meaning since what it is communicated is concerning speaker’s attitude and feeling to make social contact with hearer. Such meaning is understood as something positive with the meaning of ‘in truth’ therefore it means to be ameliorative as well. In development of use, b2 expands to pejorative meaning because it is said to be used as something negative with the meaning of ‘in untruth’ . The expansion terminal refers to a paradox of pure b2 and polar b2 B2 can also be classified according to speaker’s senses besides its inforcement. In bahasa Indonesia, there are at least twenty four senses of b2, i.e. greeting, introducing, addressing, congratulating, good wishing, joining, offering, appealing, forbidding, rejecting, aggreeing, accepting, understanding, promising, complimenting, evaluating, modesty, symphatizing, caring, recalling, apologizing, please, thanking, and parting. From the senses analyses, shown that sense reflects function. An utterance is always of multifunction and the sense of the utterance is always multisense. Nevertheless, when a speaker delivers hisiher b2 completely with other contexts he/she means a single sense as it can be interpreted by the hearer. B2 is universal, but the use of b2 differs between a speech community to another so b2 appears its own particulars. The particulars root in linguistic habit, and linguistic system. The linguistic habit reflects culture specifics being implemented by topics and uses. activity, destination, place of living, jobs, and education. The specific uses of b2 are shown by the typical utterance which does not exist in the language being compared, by the resembling utterance but different in use, and by the different utterance but similar in use. The particulars rooting in linguistic system are shown by speech system of inexplicitness which is taken into account by the use of possesive pronoun (-nyu),and the deletion of the second singular personal pronoun (saudara/kamu/anda)and the first plural personal pronoun (krtu).

Kata Kunci : Basa,Basi,Bahasa Indonesia,Sosiolinguistik


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.