Laporkan Masalah

Emansipasi 'Bangsa' dalam Surat dan Nota Kartini :: Kajian Filsafat atas sebuah Refleksi Etis

SOELEIMAN, Dri Arbaningsih, Promotor Prof.Dr. Djuretna Adi Imam Muhni, MA

2004 | Disertasi | S3 Ilmu Filsafat

Tulisan Kartini terdiri dari 114 surat dan dua nota (1899- 1904). Tidak semua tulisan tersebut di publikasikan. Hanya tulisan yang telah diteliti dengan cermat dan dipilih oleh Abendanon, disusun menjadi sebuah buku dengan judul Door Duisternis Tot Licht (1911). Meskipun tidak di informasikan secara lengkap dan utuh dalam Sejarah Nasional, tulisan Kartini mengetuk semangat pemuda-pemuda pelajar STOVIA (Sekolah Dokter Jawa) yang progresif. Sekolah ini menampung pemuda-pemuda dari pelbagai Daerah. Empat tahun setelah kematiannya, pemuda-pemuda tersebut yg merasa tertindas, mendirikan pergerakan kebangkitan budaya jawa yang disebut Boedi Oetomo (1908). Di Negeri Belanda, sekumpulan pelajar dari Hindia mendirikan Perhimpunan Pelajar yang disebut Indische Vereeniging (1911). Ketika semangat kemerdekaan dan kesadaran nasionalisme mereka mencapai puncaknya, para pelajar STOVIA tersebut yang berasal dari pelbagai Daerah menyatakan sumpahnya, yang disebut Soempah Pemoeda (1928) Di Batavia. Ini merupakan bukti, bahwa pendidikan memampukan manusia membuat perubahan. Dengan berjalannya waktu, Kartini sebagai penggagas emansipasi ‘bangsa’ dan perintis kesadaran nasionalisme telah terlupakan. Oleh bangsanya, Kartini dikenang sebagai pahlawan perintis kemerdekaan dan pejuang emansipasi wanita. Renungan etis Kartini tentang kehidupan Jawa yang tertindas dituangkan ke dalam dua versi nota, yaitu untuk Idenburg dan untuk Abendanon. Penulisan ini bermaksud menunjukkan, (1) perjuangannya memerdekakan rakyat dari derita akibat penjajahan kolonial Belanda yang tidak berkeadilan sosial; (2) perjuangannya memerdekakan wanita; (3) keprihatinannya mengenai ketidak adilan atas perlakuan Pemerintah terhadap pegawai Jawa dibanding terhadap Belanda yang sama-sama bekerja pada Pemerintah Gubernemen, dan mempertanyakan kewajiban moral mereka kepada rakyat Jawa; (4) filsafat pendidikan Kartini. Mimpi Kartini tentang sebuah peradaban baru, tempat Jawa dan Belanda dapat hidup berdampingan sebagai mitra dan kawan sewarga tampak mustahil. Penyebab utama hadirnya ketidakadilan dalam kehidupan masyarakat adalah tidak adanya kehendak politik para Penguasa Jawa untuk memperlakukan rakyat dalam semangat kemerdekaan, persaudaraan dan persamaan, semangat Revolusi Perancis yang dikagumi Kartini. Menurut Kartini dasar utama penyebab para Penguasa kurang bertanggungjawab, terkesan tidak melindungi dan mensejahterakan rakyat adalah karena bodoh dan kurang pendidikan. Ditambah lagi, feodalisme Jawa pun bertanggungjawab atas kondisi para wanita Jawa dan rakyat miskin yang memprihatinkan itu. Oleh karenanya, Kartini bertanya, bahwa bagaimana mungkin masyarakat maju kalau wanita sebagai pendidiknya bodoh dan tidak terdidik? Dengan diberikan ketrampilan mengurus Keluarga, mengelola Rumah Tangga dan pengetahuan lainnya, diharapkan para wanita bangsawan dapat menjadi ibu dan pengelola rumah tangga yang handal sekaligus dapat menjadi panutan masyarakat. Dengan jalan ini, wanita secara tidak langsung dapat turut terlibat dalam kebangkitan nasionalisme bangsa atau emansipasi bangsa. Mimpi Kartini adalah memodernisasi Jawa agar mampu berkembang dari alam pikiran tradisional ke alam pikiran modern tanpa harus meninggalkan budaya lokal. Sepanjang hayatnya Kartini berjuang demi masa depan Jawa yang lebih baik, karena masa lalu Jawa adalah bangsa yang merdeka secara sosial-politik.

The writings of Kartini consist of 114 letters and two notes (1899-1904). Not all of them were published. Those which were published were the ones very carefully chosen by Abendanon, arranged as such and published as a book called Door Duisternis Tot Licht (1911). Unfortunately, it has never been mentioned before, in the Indonesian history, that Kartini’s writing inspired progressive young men, especially students of the medical school for natives (Javanese), STOVIA. The students came not only from Java, but also from other regions. Four years after her death, some young liberated and progressive spirited students of STOVIA set up a political organization called Boedi Oetomo (1908), followed by other political movements in the Netherlands, e.g. Indische Vereeniging (1911) By the time the spirit of liberation and national awareness reached its peak, in Batavia, students of STOVIA from part of different regions made a vow known as Soempah Pemoeda (1928). This was to prove that education enable people to change. As time goes by, Kartini, the inspirator of liberation and nation awakening has long gone and forgotten, instead she becomes simply the hero of liberation and emancipation for women. Kartini’s ethical reflection towards the Javanese oppressed societal life was conveyed in both her notes for Idenburg and for Abendanon. This research, therefore, is to show (1) Kartini’s struggle for the release of her people’s suffering caused by Dutch collonial social injustice; (2) Kartini’s struggle for women liberty (3) Kartini’s concern for the equality of rights between Javanese and Dutch civil servants to Dutch Government and their duties to the Javanese ; 4) Kartini’s philosophy on education. Kartini’s dream of a new kind of civilization, where Javanese and Dutch both could live together as equals and as co-citizens seemed too far to be true. The main reason for the presence of social injustice amongst the Javanese was because of the absence of Javanese high ranking officials political good will to treat their people better as shown in the spirit of liberty, brotherhood, and equality, of which Kartini was very keen. According to Kartini, ignorance was the prime and sole cause of the irresponsible attitude amongst Javanese high ranking officials in the protection and looking after their subordinants and the poor. In addition, Javanese feudalism was also responsible for another unfortunate situation towards women and the poor. Accordingly, Kartini was wondering, how would it be possible for a society to be developed if women, the sole and prime educator were ignorant and uneducated? By way of giving Javanese young women education on family life, home economics, would give them a chance to become qualified homemakers as well as pillars of civilization. Thus, indirectly, women take part in the nation awakening. Kartini’s dream was to give the Javanese Western education, in order for them to develope their mind from traditional outlook to modern thinking without leaving local culture as their origin. Kartini had struggled for life for the better future of the Javanese, since Javanese were before a “nation” of liberty in its own right socially as well as politically.

Kata Kunci : Filsafat,Emansipasi Bangsa,Surat dan Nota Kartini


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.